Responsif, Progresif, Produktif


Breaking News

welcome

Selamat Datang di website Resmi LPM MATA UNTIDAR | Salam Pers Mahasiswa | update terus di www.lpmmata.com | Kunjungi official account kami | Instagram: @lpmmata_untidar | Youtube: LPM MATA UNTIDAR

Sabtu, 31 Desember 2016

Candi Umbul, Pemandian Air Hangat Ala Kerajaan


S
Candi Umbul: pemandian air panas di Kabupaten Magelang.
                         MATA Photos
ebagian dari kita masih asing dengan nama Candi Umbul terutama orang-orang yang bukan asli dari daerah Magelang. Candi ini bukanlah sekedar candi seperti pada umumnya, melainkan sebuah candi yang memiliki pemandian air panas yang terletak di Kabupaten Magelang. Tepatnya di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Agar dapat mencapai objek wisata ini, dengan kendaraan pribadi bisa melalui dua arah. Pertama, dari arah Semarang pengunjung dapat mengambil jalan ke kiri sebelum Kecamatan Pringsurat, Temanggung, sekitar 400 meter akan langsung sampai di lokasi. Sedangkan yang kedua, dari arah Yogyakarta, pengunjung dapat mengambil jalan ke kanan di pertigaan Desa Krincing, sebelah utara Secang ke arah Grabag, atau melewati jalan alternatif dari Menowo kemudian sampai di pertigaan Kayupuring, Banyusari lalu ambil kanan ke arah Grabag, kemudian mengikut papan penunjuk arah menuju Candi Umbul. Tempat ini masih sangat asri dengan berpagarkan pohon-pohon yang amat rindang.
“Candi ini sebenarnya adalah sebuah pendopo dan dibawahnya merupakan kolam pemandian,” ungkap Restu, yang merupakan putra dari pengelola Candi Umbul. Konon, situs ini dibangun sejak zaman Wangsa Syailendra. Candi Umbul merupakam Candi Hindu, yang dahulunya kolam ini merupakan tempat pemandian para putri bangsawan. Hingga saat ini masyarakat sekitar tetap menjaga dan merawatnya sebagai situs peninggalan bersejarah dan menjadikannya tempat rekreasi. Candi Umbul berasal dari kata Umbul dalam bahasa Jawa berarti naik. Hal ini dikarena sumber air yang dihasilkan dari dasar kolam selalu menyembul membentuk gelembung-gelembung, sehingga masyarakat menyebutnya “umbul atau mumbul”.

            Kolam pemandian dibagi atas dua bagaian, yaitu berupa kolam air panas dan kolam air dingin yang letaknya lebih rendah. Dinding dari kolam ini tersusun atas batu andesit seperti candi pada umumnya. Ada pula candi-candi yang berjejer di tepian kolam menggambarkan berbagai relief tumbuhan, binatang, dan stupa bagian puncak candi. Secara keseluruhan candi ini masih kental dengan nuansa sejarahnya. Keberadaan umpak (pondasi) yang terdapat di setiap sudut dasar kolam merupakan tiang penyangga. Sedangkan batuan lain berbentuk lingga datar merupakan alas duduk untuk bersemedi para ksatria terdahulu. Suasana yang tenang berada jauh dari kebisingan kota dan air yang hangat untuk berendam sangat cocok untuk merileksasikan badan. Air kolam ini memiliki kandungan sulfur atau belerang, tetapi berbeda dengan pemandian air hangat lainnyanya, Candi Umbul tidak memiliki bau belerang yang menyengat. Sehingga pengunjung dapat sepuasnya berendam ditempat ini tanpa mengalami resiko. Belerang yang terkandung didalamnya konon bermanfaat untuk  menyembuhkan berbagai penyakit kulit, dengan suhu air yang dapat menjadi terapi tulang dan pelancaran peredaran darah. Layaknya Spa disalon-salon ternama. Tidak perlu merogoh kocek yang dalam, hanya dengan Rp.3500/dewasa dan Rp.2500/anak pengunjung bisa merasakan kehangatan dan keindahan Candi Umbul. (SPU)
Read more ...

Rabu, 28 Desember 2016

Ketika Hati Telah Mati

Ketika Hati Telah Mati
(Oleh: RIN)


Bom waktu seakan telah meledak
Menghempas negeri yang tak berdosa
Orang-orang tumpah
Darah membanjiri tanah yang pernah makmur

Derita makhluk sesamamu tak kau hiraukan
Tangis duka mereka kau tertawakan
Hidup mereka kau hancurkan
Nyawa kau ibaratkan suatu mainan

Duhai makhluk-makhluk berakal
Dimanakah pikiranmu?
Kau kemanakan hati dan rasa simpatimu
Kau luapkan kebencian pada umat yang tak bersalah itu



Read more ...

Murkanya Alam

Murkanya Alam
Karya : Amandasari Mardiana

Saat sunyi menyelimuti malam 
Tubuh memilih untuk diam
Semua terlelap dalam-dalam
Bumi yang seakan-akan diam
Namun tak dikira menyimpan amarah yang terpendam
Segala sesuatunya diporak-porandakan 
Satu detik pun tak terlewatkan
Kejadian yang menggangu ketenangan
Bayi mungil menangis kebingungan
Manusia mencari tempat perlindungan
Oh Tuhan ..
Di mana kami harus mencari tempat persembunyian
Di mana kami harus mencari ketenangan
Di mana kami harus mencari keajaiban
Tuhan...
Apakah ini pertanda bumi yang sudah tua 
Atau kami yang semakin menambah dosa
Dosa yang bisa dilihat dampaknya
Kematian kehancuran dimana-dimana
Sehingga kami tak bisa lari dari murkanya


Read more ...

Aku Memang Tergantung

Aku Memang Tergantung
Oleh: K.Mt

Aku tergantung
Oleh tanganmu
Untuk menggenggam erat kulitku
Menyentuh setiap inci kehidupan
Menggandengku saat menyeberangi jembatan kepedihan

Aku tergantung
Oleh ucapanmu
Untuk mewarnai hidupku
Menjaga pikiran yang tertatih ini
Memberiku sejuta kiasan agar aku tetap berdiri

Aku tergantung
Oleh matamu
Untuk melihat duniaku
Memandang dari berbagai jalan
Agar aku tak tersesat


Read more ...

Selasa, 27 Desember 2016

Kebahagiaanku Adalah Jeritanmu

Kebahagiaanku Adalah Jeritanmu
Oleh: Ahmad Choirul

Cahaya pagi menembus kaca jendela
Tegak cahayanya menusuk citra
Kicauan indah terdengar di telinga
Menikung pohon yang melambai warna

Pagi yang dingin merangkai bait
Angin alam berhembus menembus kulit
Kerasnya hidup melawan pahit
Sejuta harapan masa depan terlukis di langit

Dalam senyummu kau sembunyikan lelahmu
Derita siang dan malam selalu menimpamu
Di setiap tetesan keringatmu
Di derai oleh lelah nafasmu

Seonggok cacian selalu menghampirimu
Secerah hinaan tak peduli bagimu
Tak sedikit pun menghentikan langkahmu
Untuk bisa memberikan harapan baru untuk anakmu
Tangismu kan berganti menjadi tawa
Dukamu kan terpecah menjadi bahagia
Dan air mata yang terjatuh
Tak kan berubah menjadi nestapa



Read more ...

Senin, 26 Desember 2016

Seminar Nasional UMM Sukses Hadirkan 562 Peserta

Magelang - Seminar nasional sukses diadakan di auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) dengan tema Ekonomi Kreatif pada Sabtu (17/12). Seminar ini diselenggarakan oleh panitia semester satu dengan menghadirkan dua pebisnis muda, yaitu Sembodo Malik, seorang Founder Kampung Blogger Magelang dan Rifky Ali Hamidi, seorang CEO Busana Mandiri. Kesuksesan seminar ini juga dibuktikan dengan hadirnya 562 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa dan umum yang semula perkiraan hanya akan dihadiri 300 peserta.
Seminar nasional dengan mengusung judul “Melalui Ekonomi Kreatif Kita Wujudkan Indonesia yang Mandiri” memiliki tujuan agar pemerintah gencar menyelenggarakan ekonomi kreatif baik sektor pariwisata, internet, maupun sektor lainnya. Materi yang disampaikan oleh Sembodo Malik adalah cara merintis usaha dari internet. Ia mengakui bahwa dirinya pernah jatuh pailit karena lupa diri setelah kaya. Tidak pernah salat apalagi zakat. Untuk membeli susu anaknya, dia meminjam Rp. 2 juta dari seorang teman. Sembodo pun bangkit setelah istrinya membuat blog dan menghasilkan Rp. 34 juta. “Saya pernah rela makan mie selama satu bulan hanya untuk membeli sebuah komputer. Tapi kemudian saya masuk rumah sakit selama sepuluh hari. Setelah itu saya bersih-bersih kamar dan menemukan sebuah buku tentang cara menghasilkan uang dari internet secara otodidak,” tutur Sembodo saat mengisi materi.
Selain itu, materi kreativitas berbisnis yang berorientasi pada pasar disampaikan oleh Mr. Rifky. Pria kelahiran 23 Februari 1990 ini pernah di-droup out dari kampus setelah dua bulan kuliah. Oleh karena itu ia mulai berbisnis. Menurutnya, bisnis tidak cukup hanya kreatif, tetapi juga harus memperhatikan barang yang dibutuhkan pasar.
”Kita harus bisa memanfaatkan apa yang kita punya tanpa mengeluarkan modal, karena semua yang ada di sekeliling kita pun dapat dijadikan uang dan usaha,” tutur moderator di akhir seminar sebagai kesimpulan. Ketua panitia seminar nasional, Aris Setianto, berharap dengan diadakannya seminar ini maka jiwa entrepreneur akan tumbuh pada diri setiap peserta seminar. “Semoga lebih bermanfaat dan berdampak positif, dan menumbuhkan jiwa enterpreneur,” jelas Aris.
Seminar nasional UMM juga mendapat respon yang positif dari peserta. “Kita bisa jadi dapat ilmu biar jadi mahasiswa kreatif untuk dapat uang”, kata Diyah Ayu, mahasiswi Ekonomi Pembangunan, Universitas Tidar. “Jujur ya, setelah seminar ini saya mendapat pencerahan dan ilmu, sebenarnya sudah bagus, tapi pembicaranya kaya curhat sendiri, harapan saya, semoga dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan mendapat rezki dari jerih payah sendiri,” kata Endah Kun Suciati.
Aris menuturkan hambatan yang dihadapi penyelenggaraan seminar yaitu permasalahan teknis, seperti panitia yang terlalu banyak dan sulitnya menyatukan berbagai pendapat. Kendala lainnya yaitu mencari sponsor, dari 22 instansi hanya ada 6 instansi yang tembus sebagai sponsor. Meskipun demikian, secara keseluruhan pelaksanaan seminar nasional tersebut lancar. (GIS_MIS)


Read more ...

Tumpahkan Keluh Kesah Melalui 2 Jam Bersama Prodi

UNTIDAR-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar (Untidar) mengadakan acara “2 Jam Bersama Prodi" pada Jumat (16/12). Acara berlangsung pukul 09.00-11.00 WIB untuk prodi Pendidikan Bahasa Inggis dan pukul 13.00-15.00 WIB untuk prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

PRODI: Acara 2 Jam Bersama Prodi diikuti oleh semua mahasiswa
             Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(FKIP)
             Universitas Tidar
(Untidar) Mata Photos
            Acara yang diadakan di Auditorium Untidar ini dihadiri oleh semua mahasiswa FKIP Untidar serta para dosen dari setiap prodi. Rangkaian acara tersebut ialah sambutan oleh Ketua Jurusan setiap prodi dan dilanjutkan dengan pengambilan angket penilaian kinerja dosen oleh mahasiswa, sharing antara mahasiswa dan dosen, penjelasan visi misi tiap prodi, serta penutup.
           Tujuan dari diadakannya acara ialah untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada dosen dan sebaliknya, serta untuk menghindari adanya aksi demo di kalangan mahasiswa FKIP. Maka dari itu mahasiswa diberi kebebasan untuk menyampaikan semua keluh kesah mereka mengenai dosen maupun pengadaan fasilitas atau prasarana kampus. Para dosen juga diperkenankan untuk menjawab keluh kesah yang disampaikan mahasiswa.

            “Daripada kalian berdemo panas-panas, teriak-teriak, bolos kuliah, kan mending menyampaikan keluhan di acara ini,” kata salah seorang dosen PBSI. (Qilba/Na’s)
Read more ...

Jumat, 23 Desember 2016

Tak Perlu Keliling Dunia, Cukup Rp15.000 Saja


S
Sumber: Lpmmata.com (Mata Photos)
iapa sih yang tidak mau untuk diajak keliling dunia menikmati tempat-tempat terkenal, tempat-tempat idola bagi semua orang? Sekarang kita tak perlu lagi untuk repot-repot keluar negeri, mengeluarkan badget banyak, mengurus ini itu, dan harus ribet kesana-kemari melengkapi persyaratan. Kini telah ada sebuah tempat wisata yang menyediakan semua tempat-tempat indah di dunia, lengkap dengan kekhasan dari negeri tersebut, misalnya saja Menara Eiffel, rumah adat Papua dan lain sebagainya. Tidak hanya menarik, di tempat itu juga terdapat objek-objek terkenal di dunia dan pemandangan yang sungguh luar biasa indahnya, tidak ketinggalan bunga tulip warna-warni yang bermekaran terhampar sepanjang lokasi tersebut yang menambah keindahan.
Small World adalah wisata baru yang terdapat di daerah Purwokerto, tepatnya terletak di Jalan Raya Ketenger, Baturaden. Ciri khas dari tempat wisata ini yakni terdapatnya miniatur bangunan dunia serta area yang menjadi ciri khas suatu negara dari seluruh dunia. Ketika kita mengunjungi Small World, kita bisa merasakan rasanya berkeliling dunia dalam waktu sehari saja, sehingga dalam sehari bisa mengunjungi Pissa Tower, Menara Eiffel dari Prancis, Colosseum dari Italia, ikon Amerika yaitu Patung Liberty, Bunga Tulip dan Kincir Angin dari Belanda, Monas dari Indonesia dan masih banyak lagi. Walaupun area ini hanya sekitar 1,5 ha namun keindahan yang ada didalamnya tidak akan tertandingi oleh tempat wisata yang lain.
“Tempat wisata ini paling cocok untuk wisata sambil edukasi, selain untuk menghibur diri juga bisa digunakan sebagai sarana belajar bagi keluarga yang memiliki anak kecil yang belum mengerti dan mengenal objek ataupun ciri khas dari berbagai negara yang ada di dunia. Wisata ini sangat indah, tetapi sayang karena masih dalam proses pembangunan, maka masih terlihat material bangunan yang berserakan sehingga mengurangi keindahan. Tapi disamping itu, tempat ini begitu menarik untuk dikunjungi karena sangat nyaman, terdapat tempat duduk seperti saung, tempat yang bisa digunakan untuk beristirahat di dekat miniatur yang ada, sehingga pengunjung tidak perlu repot-repot mencari tempat untuk beristirahat.” ujar salah satu pengunjung, Bahar Fatah Wijayanto, mahasiswa AMIKOM Purwokerto

Small World menawarkan budget yang murah untuk memikat minat pengunjung. Hanya dengan Rp. 15.000 di hari biasa dan Rp. 20.000 ketika weekend, sehingga Small World ini telah mampu memikat ribuan pengunjung. Bagaimana menurut kalian? Maukah berkunjung ke Small World untuk menikmati keindahan dunia? (MG MYH/ Lpm mata)
Read more ...

Kamis, 22 Desember 2016

ADA APA DENGAN SPI ?

ADA APA DENGAN SPI ?
Kunto Megantoro

SPI merupakan singkatan dari Sumbangan Pembangunan Institusi, yang pemberlakuannya bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN), seperti meningkatkan aktivitas akademik mahasiswa. Contohnya ialah ketika mengikuti perlombaan, melakukan studi banding maupun kunjungan kerja, memperbanyak jumlah penelitian, pembangunan gedung, serta pemeliharaan fasilitas kampus seperti gedung perkuliahan dan laboratorium Pemberlakuan SPI ini di satu sisi yang lain memberatkan mahasiswa baru yang akan masuk PTN. SPI tentu sangat berbeda dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Jika UKT dibayarkan setiap semester, maka SPI hanya dibayar satu kali ketika masuk ke sebuah perguruan tinggi. SPI itu lebih banyak diperuntukan kepada mahasiswa baru yang melalui jalur mandiri tergantung dari kebiajkan kampus, kemudian besaran dana SPI yang dipungut antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi yang lain memang berbeda karena kondisi dan kebutuhan setiap PTN juga berbeda. Menurut Kebijakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) menetapkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi No. 22 Tahun 2015 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal, terutama pasal 9 yang mengatur bahwa PTN dapat memungut pungutan lain selain Uang Kuliah Tunggal (UKT). Perguruan-perguruan tinggi negeri seperti di Unsoed, Unnes maupun universitas lainnya sudah menerapkan pemberlakuan SPI ini. Universitas Tidar (Untidar) sendiri mulai menetapkan SPI bagi mahasiwa baru pada angkatan 2016.
            Entah apa yang ada di benak pemerintah sehingga memunculkan sebuah kebijakan yang makin menambah beban para mahasiswa. Di zaman modern yang semakin maju di mana semakin tinggi pendidikan yang dimiliki seseorang, maka semakin besar wawasan, pengalaman, dan pengetahuan yang diperoleh. Kemampuan-kemampuan seperti inilah  yang banyak diinginkan atau menjadi syarat utama dalam perekrutan sebuah perusahaan. Pertanyaannya, lalu bagaimana jika pemerintah semakin mempersulit mahasiswa untuk menempuh sebuah pendidikan? Pendidikan merupakan fondasi bagi kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan dapat dikatakan sebagai tolak ukur kemajuan sebuah bangsa, dan sebuah inovasi tidak akan terjadi tanpa adanya para mahasiswa, yang memperoleh ilmu melalui pendidikan.
Pemberlakuan aturan pemungutan biaya selain UKT tersebut adalah salah satu imbas pengurangan jatah dana pendidikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).  Dalam laporan APBN 2016, Kemenristekdikti mengalami penurunan pendapatan sebesar Rp.5,6 Triliun apabila dibandingkan dengan APBN perubahan yang bejumlah Rp.43,6 Triliun. Penurunan ini akan berdampak luas, di antaranya pengurangan alokasi anggaran prioritas pendidikan nasional. Disisi lain, pemerintah memprioritaskan program nawa cita yang artinya pemerintah terus mendorong pertumbuhan insfrastruktur. Anggaran difokuskan lebih banyak pada kementerian teknis pembangunan infrastruktur (tribunnews.com). Pemerintah hanya fokus terhadap pembangunan infrastruktur untuk saat ini tanpa melihat sisi kedepannya.
Pemerintah tidak mampu melihat keuntungan yang dapat diperoleh jika biaya pendidikan tinggi diringankan. Mereka seakan tidak mau melihat keuntungan yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama karena  hanya memfokuskan dalam satu sisi yaitu pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur ini terkesan hanya tampak kasat mata demi mendapatkan citra baik di dalam masyarakat. Pemerintah hanya melihat sisi yang mana jika sisi itu menguntugkan, maka pemerintah akan melakukannya. Bukankah sang bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara berpesan bahwa dengan ilmu kita menuju kemuliaan dan bahkan seorang  penulis terkenal dari Irlandia, Oscar Wilde yang dikenal akan kemampuan mengolah kata serta penggunaan paradoks dalam karyanya, ia mengatakan bahwa "pendidikan merupakan suatu hal yang mengagumkan.”


Read more ...

Si Manis, Pepaya Gunung dari Dieng

Sebenarnya apa sih pepaya gunung itu? Pepaya gunung alias buah carica, adalah buah yang menjadi khas oleh-oleh dari tempat wisata di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo. Mengapa wisatawan sering menyebutnya pepaya gunung? Itu karena bentuknya yang menyerupai pepaya namun hanya tumbuh di Dataran Tinggi Dieng.
Jika Anda sedang berwisata ke Dataran Tinggi Dieng, jangan lupa mencicipi olahan buah carica yang lezat. Tidak hanya lezat, tetapi carica juga sangat bermanfaat bagi kesehatan. Ini karena dalam buah carica terkandung vitamin A, C, E, B kompleks dan serat yang tinggi, yakni enzim papain yang berguna bagi tubuh dan metabolismenya.
Ketika tiba di daerah Dieng, Anda akan disuguhkan berbagai macam produk olahan carica. Mulai dari manisan carica (carica in syrup), keripik carica, sampai ada kedai, dan kafe carica yang menyediakan berbagai masakan olahan buah carica. Olahan buah carica juga sangat mudah didapatkan di berbagai pusat oleh-oleh dan penjual pinggir jalan, yang tentunya tidak akan mengecewakan.
Bahkan bukan hanya olahan carica yang dapat Anda temukan di Dieng, melainkan  juga buah carica yang belum diolah dan masih di pohonnya di ladang petani. Namun, siapa sangka bahwa dalam pengolahan buah carica menjadi manisan, ternyata membutuhkan kesabaran dan kehati-hatian. Karena getah yang banyak dan harus dibersihkan bukanlah pekerjaan mudah, membutuhkan kesabaran.
Proses sterilisasi ini akan memengaruhi cepat tidaknya manisan carica basi. Jika proses pembersihan getah tidak maksimal, maka buah carica akan mudah basi. Mengingat manisan carica tidak digunakan bahan pengawet, hanya mengandalkan gula sebagai pengawet alami.
Eka, salah satu produsen manisan carica rumahan di Sidojoyo, Wonosobo mengatakan, “Mengolah buah carica itu gampang-gampang susah, seperti merawat anak bayi karena apa-apa harus steril, terutama pembersihan dari getahnya”.
“Sebenarnya proses pengolahan untuk menjadi manisa carica itu simpel, hanya proses pengupasan, pencucian, perebusan, sterilisasi, dan terakhir pengemasan yang membuatnya terkesan ribet. Bahkan itu harus dilakukan dengan hati-hati agar nantinya produk manisan carica yang sudah siap dipasarkan tidak mudah basi karena kelalaian dalam proses pengolahan”, tambahnya.

Jadi, jika Anda sedang berkunjung ke dataran Dieng, jangan sampai melewatkan kesempatan mencicipi olahan buah carica. Jangan takut membeli olahan produk buah carica, karena si manis pepaya gunung ini diolah menggunakan bahan alami yaitu buah carica, garam dan gula. (MG DWS, LPM MATA)
Read more ...

Selasa, 20 Desember 2016

KEKUASAAN

KEKUASAAN
Karya : Widi Choirul Umam


Kau bilang kepentingan rakyat
Namun kau sendiri belenggu nafas rakyatmu
Yang hidup segan mati tak mampu

Toleransi antar umat, yang kau junjung tinggi
Tapi kaum diskriminasi tak bela
Hingga mata tak bisa menangis
Melihat saudara dianiaya

Demokrasi, katamu
Demontrasi kau larang dengan dalih seribu kicauan
Rakyat mengemis keadilan
Orasi dianggap angin lalu
Sakit!!!, telingamu hanya simbol belaka

Pancasila tertindas
Keadilan yang goyah
Oleh uang sebagai penguasa
Sebab harta dan tahta yang kau puja-puja
Dan Sekuler pun yang diagung-agungkan
Lalu tanah ini dijual
Bendera Cina tertancap tegak
Antek-anteknya dilindungi
pemuda kau kubur hidup-hidup
Kebhinekaan hanya gurau belaka

Keadilan bagi seluruh kaummu
Yang jadi teriakan kencangmu
Terus apa yang buat oleh kaum kulit hitam
Kau hamparkan tinta ke kertas suci yang mulia
melenggangkan penjajahan suci
Untuk mengambil berlian abadi
Kau tinggalkan air mata kematian

Itukah penguasa adil
Seperti ban tanpa pentil
Dengan tangan yang begitu jahil
Memakan bangkai kaum madani



Read more ...

Hallayu Semu Pandang

Hallayu Semu Pandang
Karya : Wahyu Desi Yuliani

Teruntuk tuan hatiku,
Dikata kagum,
Aku pun tidak
Dikata suka,
Tak begitu istimewa
dikata rasa,
Tak tahu latarnya
Kala itu Mentari kelam
Membenam dalam di dasar bumi
Jingga samar hingga hilang tak bertuah
Bersilah di atas gelar tikar
Menatap lekat biner layar
Buah pikiran Charles Babbage
Berlaku layaknya netizen
Ngiang dalam penasaran
Menggali dalam-dalam
Mencoba menanam rasa
Menghentikan dormansi
Walau mustahil bertunas
Sentimentil tetapi semu
Bintang bersinar silaukan mata
Nun jauh bersekat benua
Waktupun enggan menjawab
Mata itu, bibir itu, telinga runcing
Yoda yang tak hanya animasi
dalam film Star Wars
Tetapi masih dalam semu pandang, bagiku
Sekuat apapun sinar gamma kukirimkan
Tak mampu menembus puluhan sekat bersusun
Akulah netizen dari sisi gelapmu, atas pancar sinarmu dalam semu pandang
Akulah netizen yang hanya mengamatimu dari kejauhan
Akulah netizen berharap lebih menunggu waktu perjumpaan semu


Read more ...

Thanks to Mathematic

Thanks to Mathematic
 Oleh: AF

Namaku Rio Rakabuming, biasanya sih dipanggil Rio saja. Aku masih duduk kelas dua di bangku SMA, di salah satu sekolah negeri di Banten. Aku bisa masuk ke sini karena dulu SMP nilaiku bagus. Ya, karena aku nyontek pas ujian. Jangan ditiru. Oke. Tinggi badanku sekitar 167 cm, nggak tinggi-tinggi amat sih, dan berat badanku 60 kg. Gendut nggak ya, aku? Biarin ah, yang penting aku keren. Aku tinggal serumah dengan kakakku yang bernama Amel, orangnya cantik, dan berhijab. Kalau ketemu sama pria seumurannya gitu, dia selalu menundukkan kepalanya. Katanya sih malu, atau nggak ya menghindar gitu. Padahal nih, dia udah jadi mahasiswi. Tapi belum punya pengalaman tentang pacaran. Katanya, dia ingin jadi sarjana dulu baru mikirin jodoh. Nggak seperti aku yang punya banyak pengalaman pacaran. Mulai dari diporotin uangnya, diselingkuhin, dikhianatin, ah banyak macem deh. Tapi aku nggak pernah yang namanya selingkuh. Inget!!! Hehehe…
Ada sedikit cerita nih dari mantanku, namanya Anin, dia itu orangnya dikit-dikit emosian Bro. Males keleus dikit-dikit kena semburan naga api. Panas, Broo. Apa lagi sama si Angel. Dia itu anak blasteran  Inggris-Indonesia. Bule gitu lah, tapi norak. Iya norak. Setiap kali aku ajak main, maunya ke sawah, kalau nggak ya pengunungan tapi tetep ada unsur sawah gitu. Tahu kenapa? Karena dia mau selfie di situ, dikit-dikit aku suruh fotoin terus di-upload gitu. Cowok mana yang nggak bete kalau wanitanya begitu. Putus deh.
            Udahlah, hari gini bahas mantan. Nggak move on-move on repot deh. Sekarang aku jomblo nih. Siapa yang mau sama aku, angkat kakinya! Eh swear kalau aku jomblo, apa kata anak sekolah ya. Aku kan terkenal dengan sebutan manusia ‘playboy’? Udahlah nggak usah di pikir Bro, ini mau Ulangan Tengah Semester (UTS). Selama UTS berlangsung, aku sebel. Orangtuaku malah sibuk terus dengan pekerjaan. Kalau pulang pasti malem. Kalau nggak ya selalu saja berantem.
“Aku tertekan Ma, Pa. Kalian selalu berantem mulu. Aku capek dengernya,” kataku di depan mereka pada malam itu.
“Mama kamu itu yang selalu saja memancing emosi Papa,” kata Papa.
“Iya Papa itu kan. Kalau Papa nggak selingku, Mama nggak mungkin akan seperti ini,” bantah Mama.
“Dia itu bukan selingkuhan Papa, Ma. Dia itu sekretaris baru Papa.”
“Udah lah Ma, Pa. Kalau begini terus, Rio pergi dari sini.”
Waduh, kalau aku pergi dari sini nanti aku tinggal di mana? Di pinggir jalan? Ah nggak, nggak. Batinku. Kemudian aku pergi ke kamar. Nampaknya mereka sudah nggak berantem lagi. Tidur ajalah.
            Pagi harinya aku berangkat sekolah, untuk UTS. Pagi-pagi dikasih soal matematika. Semalam nggak belajar dan paginya matematika. Pusing pala Barbie. Nyontek temen ajalah.
“Sstttt… sssttttt… nomor 1,2,3,4,5 apa jawabnya?” tanyaku pada Jerry, temenku yang terpandai. Ya meski sekelas ranking sepuluh sih, tapi lebih lumayan dari pada aku dan Gugun.
“A, e, c, nomor empat belum, b,” jawabnya dengan memegang dahi sebagai jawaban a, pegang dagu sebagai jawaban e, pegang hidung untuk c, mata untuk b. Ya pintar-pintarnya kami lah untuk mengelabuhi guru.
“Kalau nomor 7, 8, 9 ,10 apa?” tanyaku lagi.
“Apa?” Tanya Jerry, kurang jelas.
“Nomor 7, 8,..” Tiba-tiba ada yang berteriak dari depan sana.
“Rio! Kerjakan sendiri. Kalau kamu ketahuan nyontek lagi, saya ambil lembar jawab kamu. Mengerti!” Teriak guru pengawas ujian dengan menatap mataku lekat-lekat.
Busyeet aku belum sempat tahu jawabannya malah ketahuan. Hah. Kerjakan sendiri deh.
Bel berdering tanda usainya ujian hari itu. Aku dan temen-temenku pergi ke kantin.
Di perjalanan menuju kantin Gugun berceramah. “Makanya belajar dong!” kata Gugun.
“Diem lu ah. Sebel aku. Nilai ku gimana nih bro?”
“Itu mah…. tanggung aja sendiri, hahaha,” ucap gugun yang diikuti gelak tawa teman-temannya.
Aku pun pesan minuman di kantin. Saat balik, aku nabrak perempuan, dan yaah minumanku tumpah di rok dia. Basah deh. Sebisaku minta maaf, dan langsung membersihkan rok dia yang terkena noda. Saat asyiknya ngusap seragam dia, secara nggak sadar aku memandanginya. Dia cantik, putih, bersih, rambutnya di kucir pakai karet warna merah. Begitu indah saat ku tatap. Apalagi tanganku yang menyenggol tangan dia, begitu halus kurasa. Ohh bidadari jatuh dari mana ini. Aku baru melihatnya. Kenalan ah.
“Hai, maaf banget ya. Aku nggak sengaja ini. Beneran deh nggak sengaja,” kataku basa-basi sambil mengusap roknya. Dia nggak menjawab sekata apapun, dan justru langsung pergi begitu aja ninggalin aku. Mungkin mau ke toilet bersihin seragamnya.
“Woii… Ada apa sih? Heboh,” kata Jerry sambil menepuk pundakku.
“Ngagetin aja sih lu. Dia siapa ya? Anak baru?” tanyaku penasaran. Aku terus memandangnya sampai dia benar benar masuk ke toilet.
“Hah, kudet lu ah. Dia itu anak IPA 1. Ah nggak gaul sih lu,” jawab Jerry bercanda. Aku nggak bisa berkata-kata apa lagi. Kalau siswa di kelas itu biasanya anaknya pinter-pinter. Hebat deh.
Saat aku mau pulang, aku lihat dia lagi. Dia seperti lagi menanti seseorang. Dan aku nggak tau sih siapa yang di nanti itu. Samperin aja.
“Hai,sore… Aku anterin pulang yuk. Ya hitung-hitung karna kesalahanku tadi di kantin sih. Mau ya?” kataku merayu.
Aku mengendarai sepeda motor warna merah. Ya malas aja sih bawa mobil, apa lagi jalanan kalau macet, nggak sabar aku. Balik ke cewek manis itu. Dia nggak respon aku sama sekali, seperti tadi waktu di kantin. Pikirku, ini anak nggak bisa ngomong apa ya? Hush.. Jangan berprasangka buruk.
Beberapa saat kemudian aku melihat dia dijemput menggunakan mobil berwarna merah. Iya warna merah, sama seperti tas punggungnya, dan karet kucirnya itu. Kurasa dia suka warna merah. Tanpa bilang sekata apapun, dia meninggalkanku di depan sekolah tempat dia menunggu untuk di jemput.
It’s oke lah,” gumamku dengan muka kecewa.
Pagi hari, ya seperti biasa aku duduk di kursi ruang makan untuk sarapan pagi bersama keluarga yang kurang harmonis. Seperti biasa lah, tapi kali ini orangtuaku ribut karena masalah sabun yang jatuh di lantai. Ya ampun, masalah seperti itu aja diperbesar. Aku sama kakakku, kak Amel, langsung aja meninggalkan rumah yang seperti neraka ini.
Sewaktu di perjalanan, aku memikirkan perempuan cantik itu. Terasa bergetar hatiku. Padahal kan baru pertama kali aku bertemu dengannya. Rasanya ingin ku kenal lebih dalam tentangnya. Sesampainya di sekolah, aku masuk kelas. Eh, kelasnya masih sepi banget. Bisa jadi aku berangkat terawal.
“Mmm… enaknya kemana ya kalau pagi gini? Kantin ajalah, pasti rame.”
            Saat hampir sampai ke kantin, aku melihat gadis manis itu, duduk di pinggir lapangan sendiri, lagi baca buku. Cuss langsung deh, aku samperin dia.
Sambil basa basi, aku main basket aja lah di depan dia. Itung-itung cari muka lah ya. Aku lebih suka bola basket karena aku dari kecil diajarin sama papaku main ini. Bolak balik aku main basket di depannya dan nampaknya dia melihatku yang sedari tadi main. Aduh. jadi grogi deh Abang.
            Tak lama kemudian, ada temen-temen yang dateng ikutan main ini denganku. Makin menambah suasana nih. Beberapa menit main, tiba-tiba bolanya terlempar ke arah gadis manis ini. Bolanya berada di samping kakinya. Kesempatan banget aku bisa deket dia lagi. Kemudian aku mendekatinya.
“Halo… selamat pagi…Sendirian aja nih Neng?” Godaku, agar dia mau bicara denganku. Tidak ada balasan lagi.
“Kok diem aja sih? Kenalin namaku Rio. Kamu siapa?” Aku menjulurkan tanganku untuk dapat bersalaman dengan gadis manis ini.
“Namaku Ria kak,” sembari menyalamiku. Wah, seneng banget rasanya. Tangannya dingin, lembut, seperti busa. Kemudian aku melanjutkan perkenalanku.
“Wah, nama kita sama ya, aku Rio kamu Ria. Kalau keturunan kita di kasih nama Rie dong,” godaku padanya. Kemudian temen-temenku memanggilku.
“Riiiiooo!!!! Ngambil bola aja lama banget. Cepatan woi!!!” Teriak Gugun sahabatku.
Gugun benar-benar mengganggu moment istimewa itu. Kemudian, aku mengambil bola dan kembali ke lapangan. Aku melihat dia, pergi. Dan aku yakin, dia pasti mau masuk kelas.
Aku ikuti dia. Ternyata dia masuk kelas yang kosong. Namun, di situ sudah ada banyak siswa lain yang jumlahnya sekitar sepuluh orang. Aku sedikit mendengar diskusi mereka. Mereka membahas soal matematika. Aku berpikir, kok diskusi tentang matematika ya, nggak salah? Kemudian aku berpikir, kalau dia pinter terus aku pas-pasan gini, nanti aku yang malu. Sekarang aku harus punya komitmen. Aku harus bisa jadi orang pinter biar nggak malu-maluin kalau dia jadian sama aku. Setelah itu, aku pulang dari sekolah yang biasanya main PS, sekarang aku belajar.
“Wah, rajin banget ya adikku ini. Kesambet apa nih?” Tanya kak Amel menggoodaku.
“Aku tahu nih pasti ada yang bikin kamu kasmaran kan? Soalnya nggak biasanya kamu gini loh,” lanjutnya.
“Ah, Kak Amel pergi sana. Jangan ganggu aku. Mumpung lagi doyan belajar ini,” pintaku sambil mendorong Kak Amel untuk pergi dari kamarku. Kamipun tertawa bersama.
Aku nggak sabar nunggu sampai besok pagi. Aku jadi pengen telepon Ria deh. Untung tadi aku minta nomornya lewat temenku yang sekelas dengannya.
            Beberapa saat kemudian, Ria mengangkat telfonnya. “Halo…Maaf, siapa ya?” tanyanya dengan penuh kesopanan.
“Hai, ini aku Rio, yang tadi kenalan sama kamu di lapangan itu. Masih inget kan? Pastinya dong. Kan aku ngangenin” godaku sambil mencairkan suasana agar nggak garing.
“Iya, aku masih inget kamu kok. Ada apa ya Rio?” tanya Ria.
Waduh, aku bingung harus ngomong apa dan aku juga ngerasa gengsi. Setelah berpikir panjang sedikit lama juga sih. Kemudian aku punya ide.
“Gini, kamu tahu nggak soal matematika yang di paket halaman 120? Aku belum paham nih. Kamu kan pinter. Jadi aku hubungi kamu deh,” tanya Rio sembari mencari alasan untuk bisa bicara dengan Ria.
“Iya tahu, belum paham ya? Ya udah besok istirahat pertama kamu ketemuan sama aku di kantin,” kata Ria memberi penawaran.
Spontan aku bahagia sekali. Dan setelah lama ngobrol di telepon, aku tahu dia orangnya asik. Dan bahagianya besok pagi, aku boleh jemput dia di rumahnya. Surga buat aku bisa jemput gadis manis seperti dia.
            Keesokan paginya, aku jemput dia. Rumahnya besar, bagus dan terawat. Saat itu aku menggunakan motor merahku, dan dia bonceng aku. Setelah sampai di sekolah, aku nganterin dia ke kelasnya. Banyak temen-temen yang godain aku sama dia. Malu deh aku.
Saat istirahat berlangsung, aku menemuinya dan kita belajar bareng di bawah pohon yang rindang. Aku memandanginya saat dia menjelaskan rentetan rumus matematika. Sangat cantik, dan sangat pintar. Beruntung aku bisa berkenalan dengannya. Hari berganti hari dan seterusnya, aku dengannya semakin akrab dengan matematika ini. Hari-hariku juga sangat berubah saat aku belajar dengannya. Misalnya saja saat ulangan berlangsung, nilaiku biasanya paling tinggi ya cuma 50. Sekarang nilaiku bahkan bisa melambung tinggi sampai 90. Thanks to matematika.
Perasaanku kepada Ria semakin kacau karenanya. Aku semakin resah karena perasaanku yang terus tumbuh untuk selalu mengaguminya. Ku putuskan untuk nembak dia. Tapi aku takut kalau nanti aku di tolak. Tapi tak apalah di tolak. Dari pada aku pendam rasa ini terus.
Saat dia mengajariku matematika di sebuah kafe dekat rumahnya, aku coba memberanikan diri untuk mengungkapkan semua ini.
“Oke, jadi sekarang kamu sudah paham kan materi ini?” tanyanya. Namun aku terus menandangnya tajam. Dan membuatnya merasa kikuk. “Rio, kamu lihat aku terus kenapa sih?”
“Aku mau bicara sesuatu sama kamu,” aku memberanikan diri untuk bicara terus terang. “Ria, selama ini aku suka sama kamu. Kamu nggak perlu kok jawab pernyaatan ini. Aku cuma mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini aja,” ungkapku.
Ya ampun, gemetar seluruh tubuhku. Aku harap Ria juga suka sama aku. “Maaf kalau bikin kamu marah karena kejujuran aku.”
Kemudian, tak kusangka. Ria berdiri di depanku dan meninggalkan aku pergi. Aku merasa sedih karena aku tahu kalau dia tidak menyukaiku selama ini. Aku menundukkan kepala, meratapi nasib yang menimpa diriku ini. Setelah aku pikir, kenapa aku menyerah seperti ini? Aku kan hanya mengungkapkan apa yang ku rasa selama ini. Kemudian aku kejar dia. Ku pegang tangannya, dan dia balik badan sambil menangis.
“Kamu kenapa? Maaf kalau aku salah. Jangan nangis ya. Nanti aku belikan balon untukmu,” candaku untuk mencairkan suasana. Kemudian dia memelukku, dan dia berkata.
“Sempatnya ya kamu bercandain aku,” jawabnya sambil tetep menangis di pelukanku. Aku terpaku. Seperti orang mati berdiri di tempat ini. “Aku juga suka sama kamu. Bahkan kamu yang bisa buat aku seperti ini. Makasih ya,” ucapan Ria membuatku terus terpaku. Kutunggu datangnya kata di setiap bibirnya yang membuatku terus diam.
“Kamu kok nggak bicara sih? Maaf kalau membuatmu marah,” kata Ria kemudian dia melepaskan pelukannya.
“Serius? Kamu cinta aku?” dia mengangguk-angguk dan itu membuatku bahagia. Saking bahagaianya aku loncat-loncat kegirangan di depan kafe. Sampai orang-orang melihat tingkah lakuku yang konyol. Aku sangat berterima kasih sekali dengan metematika.

Dari kejadian itu, aku suka dengan pelajaran matematika. Karena matematika itu adalah ilmu pasti. Dan aku mencintainyapun karena pasti. Dan dari situlah aku mendapat hidayah untuk tidak menyontek saat ulangan berlangsung. Thanks to mathematic.
Read more ...
Copyright© 2016 Designed By Fery Firmanda.. FeryZone dot Com