foto: pngtree.com
“Aku terjatuh. Di sana gelap. Ya, hanya ada hitam,” kata bocah sepuluh tahun itu dengan lancar, seperti orang dewasa. Pandangannya menerawang, bahkan setelah tiga kali berkonsultasi dengan pakar psikologi berbeda. Kini akulah psikolog keempatnya. Dari ketiga mantan psikolog yang kebetulan kenalanku, mereka menganggap bocah itu terkurung dalam halusinasi. Penyebab utamanya bisa jadi kekerasan yang kerap kali ia telan dengan sikap keras ayahnya dan pertengkaran yang selalu menghiasi rumahnya semenjak usia lima tahun.

Namun entah mengapa, dalam sekali lihat aku menyimpulkan bahwa memang bocah ini memiliki otak genius, bukannya tak waras seperti yang orang lain kira.
“Aku terus berlari. Tapi seperti tak ada ujungnya,” lanjut bocah itu.
“Berapa jam kau bertahan di sana?” kejarku.
“Satu hari, mungkin?” katanya masih dengan suara yang samar. Bahkan gerak bibirnya sulit terbaca.
“Mengapa kau begitu yakin?”
“Karena ada seseorang bersamaku.”
“Siapa?”
“Masa depan.”

***

Mentari hampir tertelan horizon, kala itu. Tapi tubuh bocah itu enggan beranjak dari ayunan di taman. Seakan ia terhanyut dalam ilusi magis yang terpancar dari cahaya keperakan, seiring gelap yang mulai menggelayut.

Sebuah bola menggelinding dan menggelitik kaki Angkasa, bocah itu. Ia menunduk, mengamati benda bulat berwarna pelangi itu. Keningnya berkerut lalu ditolehkan kepalanya, mencari siapa pemiliknya. Jemari mungilnya merenggut bola itu dan langkah kakinya meninggalkan jejak pada pasir yang melapisi hampir separuh taman. Dengan langkah setengah berlari, bocah itu mendekat ke ujung utara taman, dekat dengan kolam ikan yang airnya menghitam, tertimpa bayang-bayang pohon mangga di keremangan senja.

Angkasa mengitari patung yang tepat berada di belakang kolam, menghadap ke sebuah rumah peninggalan Belanda, tepat di seberang taman. Bocah itu masih dalam posisi berjinjit ketika tanpa ia sadari sebuah lubang menganga di hadapannya. Ia tak dapat menjaga keseimbangannya dan jatuh terjerembab di lubang yang ternyata cukup dalam.

Untuk bocah berumur sepuluh tahun Angkasa memang terkenal rapuh. Namun kali ini bahkan tak ada setitikpun kristal bening di sudut matanya. Hanya sebuah ringisan yang dipamerkannya. Ia mendongak, menatap cahaya jingga yang memantul di atas sana. Warnanya mulai memudar, mengalirkan rasa waswas pada diri Angkasa.

Ia meraba sekitar, namun tak ada tembok yang membatasi sekelilingnya seperti yang ia duga. Dengan mata yang sama sekali tak dapat melihat, bocah itu berlari. Tangannya masih dalam posisi lurus ke depan, seperti hendak menangkap angin yang semakin menggigit.

Sudah cukup lama bocah itu berlari. Hela napasnya mulai tak beraturan. Langkahnya pun terseok dan menggema. Mungkin sudah berjam-jam atau malah hanya sepuluh menit ia terkurung. Rasa putus asa semakin menjajahnya.

Persis ketika tubuh Angkasa hampir rubuh sesosok misterius mencegah hal itu. Dengan pandangan yang mulai memburam, bocah itu tahu tubuhnya diangkat entah kemana bersama sebuah lentera yang mengalirkan kehangatan.

“Siapa anda?” tanya bocah itu. Namun hanya sunyi yang membalas.
“Masa depan,” balas sosok misterius itu, tepat sebelum Angkasa benar-benar tertelan kegelapan.

***

“Masa depan?” keningku berkerut.
Masih dengan pandangan kosong ia menjawab. “Masa depanku.”
“Maksudmu?”
“Aku melihat bintang. Tapi api di mana-mana dan aku tak bisa terpejam.”

***

Angkasa mengernyit ketika disuguhi cahaya terang tepat di atas langit-langit tempatnya terbaring.
“Aku ingin kembali,” cicit bocah itu.
“Tenanglah, kau akan kembali setelah senja datang,” sahut sebuah suara milik seorang lelaki renta. Usianya mungkin mencapai delapan puluhan dengan janggut putih yang panjang dan lebat. Namun parasnya ramah dengan lengkung pada bibirnya yang sedikit tertutup kumis yang sama putih.
“Aku ingin sekarang,” rengeknya. Namun sosok itu menggeleng lemah.
“Jelaga menari dalam ranah tempat sanda berderma.”
“Apa itu?”
“Sebuah mantra,” sambung lelaki tua itu. Lagi-lagi ia memamerkan senyuman.
Angkasa kembali terpejam. Kepalanya pening luar biasa. Sedetik kemudian sebuah ledakan membuatnya kembali terjaga. Bahkan kini bocah itu duduk tegak dengan punggung menegang. “Apa itu?”

Namun kembali, perkataannya tak seorang pun yang menyahuti. Angkasa mengedarkan pandangan, siapa tahu ada seseorang yang mampu menjelaskan keadaan saat ini. bocah itu melompat turun dari ranjang besi yang menimbulkan decitan tak mengenakkan.

Hatinya lagi-lagi mencelus ketika mendapati lorong di depannya penuh dengan tubuh-tubuh yang tak berdaya. Sementara api menjalar sampai ke langit-langit dan makin mengganas diterpa angin yang cukup kencang.

Mata bocah kecil itu menangkap sosok tua tadi di antara korban yang berserakan.
"Pak Tua," panggil bocah itu. Suaranya bergetar oleh tangis sekaligus asap hitam yang mulai menggantikan udara bersih.

Dengan masih terjaga kesadarannya, lelaki itu mengusap wajah Angkasa. Senyumnya lagi-lagi mengembang. "Angkasa, kita adalah satu."

"Aku tak mengerti. Aku tak ingin sendiri," jerit bocah itu pilu. "Mengapa kau selalu mengatakan omong kosong yang bahkan tak ku mengerti?"

Lagi-lagi lelaki itu tersenyum. "Karena aku yang paling mengerti dirimu. Aku tahu kau tak sepolos bocah sekolah dasar. Kau genius." Lelaki itu menekankan dua kata yang terakhir diucapkannya.

"Pergilah. Gapailah cahaya kejora," serunya untuk mengusir halus Angkasa.
"Aku ingin di sini. Aku takut."
"Kau harus kembali. Tugasmu hanya mencari cahaya itu, kejora. Itu demi masa depanmu."

***

"Kejora?" ulangku. "Maksudmu Venus? Bintang timur yang sangat terang itu?"
"Ya. Di sana, utarid menutupi kerlip kejora. Poros Bimasakti sangat kacau. Mungkin kiamat hanya menghitung jari." Bocah itu bergidik ngeri. Tetapi pandangannya mulai relaks, tidak setegang tadi.
"Lalu apa misimu sebenarnya. Untuk apa pula mantra tadi?"

***

Angkasa berlari keluar dari gedung yang ia yakini adalah sebuah rumah sakit. Bocah itu tak sekali pun menengok ke belakang. Di belakang sana api telah menggila dan ia tak ingin menyaksikan sesuatu yang mampu menghimpit hatinya. Itu terlalu berat, terlebih untuk seorang bocah kelas lima sekolah dasar.

Ia terus menembus kegelapan subuh. Salah sebenarnya jika ia menamai kala itu gulita, sebab api sangat angkuh dan bermain di sekitarnya. Selimut yang melingkari tubuhnya demi menghalau dingin selalu menjadi sasaran bara merah, lalu padam sendirinya oleh tiupan napas udara.

Kakinya mulai letih. Sedikit lagi mungkin bocah itu akan kembali tumbang. Namun sebelum asanya melayang, sebuah cahaya memancar lurus sejajar dengan arah kakinya melangkah. Semakin dekat dengannya, mata Angkasa mampu mengenali makhluk itu.

Tubuhnya seindah sayapnya dan dengan gagah memamerkan bulu yang bercorak keemasan. Seingatnya, tak ada burung seindah dan sebesar ini. Bahkan burung unta mungkin kalah bersaing oleh gagahnya. Ah, tapi otaknya cepat berpikir. Hanya satu nama yang mampu mendiskripsikan burung itu¾Garuda.

Takut-takut, bocah itu mendekat. Nyalinya ciut seketika ketika burung itu menghadiahkan tatapan menusuk. Namun sedetik kemudian matanya mengisyaratkan sesuatu.

Persis ketika Angkasa hendak menelisik lebih dalam, sebuah bisikan terdengar di kepalanya
“Biarkan aku ikut menjemput kejora.”
“Siapa itu?” Angkasa menelisik sekelilingnya.
“Aku Garuda.”
Suara itu lagi-lagi sukses membuatnya terlonjak. “Kau tahu kejora?” Entah kerasukan apa, tanpa gentar, Angkasa mendekat padanya¾Garuda, burung yang menyimpan banyak misteri. “Kau tahu di mana kejora?”
“Aku tak tahu. Tapi aku dapat mengantarmu ke kawah bintang.” Lagi-lagi burung itu berbisik di dalam kepalanya.
“Kawah bintang? Di mana itu?”

***

“Apa maksudmu? Bahkan kau makin membuatku bingung,” tegasku.
“Itu tempat di mana kau dapat meraih cahaya,” jawab Angkasa. Bocah itu kembali menerawang, entah hal apa yang mengisi kepalanya. Kemudian ia kembali menguraikan kisahnya.

***

Garuda terus mengepakkan sayap emasnya, masih dengan gagah berani. Menerjang ranting dan menantang angin. Angkasa sesekali melongok ke bawah dan menemukan hutan-hutan yang tinggal ranting kering tanpa hijaunya daun, sebuah cekungan besar berisi cairan menjijikkan.

“Apa itu?” teriaknya, mengalahkan kencangnya angin. “Mengapa tak ada tawa di bawah sana?”
“Kau bercanda?” balas Garuda di dalam kepala Angkasa.
“Tentu saja aku serius.”
“Tak ada yang berani membuat lelucon di saat hancurnya dunia bahkan mampu dihitung dengan jari.”
Setelah itu udara terisi kekosongan. Tak ada yang berniat bicara. Mata Angkasa sendiri terasa berat. Bahkan ia tak lagi mengagumi pemandangan aneh dari ketinggiannya saat ini.

Rasanya hampir setengah hari bocah itu menunggangi Garuda tanpa kepastian. Hingga akhirnya burung itu melayang semakin rendah dan mendarat di sebuah batu besar, Angkasa benar-benar dibuat menganga. Di depannya terhampar sabana yang dipercantik dengan aurora. Warnanya yang keunguan dan berpendar hijau memantul pada rumput-rumput yang menguning. Namun semakin lama sinarnya termakan oleh sosok bagaskara yang mulai merebut tahtanya.

“Mengapa hanya tempat ini yang memancarkan keindahan? Bagaimana dengan yang lainnya, hutan dan laut tadi?”
“Itulah misimu. Selamat mencari kejora,” seru Garuda yang lagi-lagi menggema di kepalanya. Sambil mengepakkan sayapnya dan menjauh pergi burung itu bersiul panjang. Entah apa artinya.
“Dan kau menemukannya? Kejora?” tanyaku tak sabar.
“Tak ada yang namanya kejora. Pak Tua itu hanya mengada-ada. Burung itu pun sama saja. Mereka semua berbohong,” seru Angkasa. Nada bicaranya sedikit melengking.
Entah setan apa yang merasuki tubuhku. Tanganku dengan telaten mengelus puncak kepala Angkasa. Senyumku mengembang.
“Sepertinya ceritamu bagus sekali,” pujiku.
“Kau sungguh percaya?” Wajahnya tampak bungah. Namun sedetik kemudian rupanya kembali keruh. “Bahkan tak ada yang mau percaya. Mereka pikir itu hanya bualan.”
“Tentu saja aku percaya,” balasku mantap. “Tapi kenapa kau bilang tak dapat menemukan kejora?”
“Di sana tak ada apa-apa. Aku tak mendapat apa-apa,” ia memberengut.
Aku kembali tersenyum. “Kau sudah menemukan kejora. Tapi ia akan datang perlahan-lahan.”
“Oh ya?” sahut bocah itu sangsi. Wajahnya sungguh menggemaskan di mataku.
Aku mengangguk. “Ngomong-ngomong, kapan peristiwa itu terjadi?”
“Enam puluh tahun lagi,” jawabnya. “Atau tidak sama sekali.”

Karya :Luthfi Dinda Shafia  (MG1238), Hanuun Ridhakusuma (MG1225)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama