Responsif, Progresif, Produktif


Breaking News

welcome

Selamat Datang di website Resmi LPM MATA UNTIDAR | Salam Pers Mahasiswa | update terus di www.lpmmata.com | Kunjungi official account kami | Instagram: @lpmmata_untidar | Youtube: LPM MATA UNTIDAR

Minggu, 29 September 2019

Mapala Gelar Seminar Mitigasi Bencana

TRAUMA HEALING :  Hendro Araya (SAR Kota Magelang) Sedang Memberikan Materi Seminar Mitigasi Bencana
     UNTIDAR-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berdiri pada (12/10/1980) dan menjadi UKM pertama yang ada di Universitas Tidar, yakni Mahasiswa Pencita Alam (Mapala) Sulfur selenggarakan seminar Mitigasi Bencana dengan tema Peran Aktif Mahasiswa dalam Menyikapi Bencana. Seminar tersebut merupakan salah satu dari lima rangkaian acara milad Mapala Sulfur ke-39, yang diselenggarakan di Balai RW VII Dumpoh, Magelang, pada Sabtu, (28/9). 

    Ami Mutia Hestiwi selaku ketua panitia menyatakan, “Seminar ini itu termasuk dari rangkaian acara milad. Nah yang menjadi sasaran utamanya adalah mahasiswa.”

    Hesti pun menambahkan bahwa esensi dari seminar tersebut yaitu supaya mahasiswa mengetahui peranannya ketika terjadi bencana. “Biasanya mahasiswa hanya melakukan galang dana ketika ada bencana. Sebenarnya yang dibutuhkan korban bencana tidak hanya bantuan berupa material, tapi juga bantuan berupa jasa. Oleh sebab itu, ketika seminar tadi ada materi terkait trauma healing,” ujarnya.

    Dalam acara seminar tersebut, Mapala Sulfur bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang dan Tim Search and Rescue (SAR) Kota Magelang. Teguh Hardiyono (BPBD Kab. Magelang) serta Hendro Araya (SAR Kota Magelang) dihadirkan sebagai pemateri.

    Saat ditemui LPM MATA setelah acara seminar berakhir, Hesti menjelaskan 5 rangkaian acara milad UKM yang namanya terinspirasi dari nama ilmiah belerang. Diantara 5 rangkaian acara tersebut dilaksanakan pada tanggal yang berbeda.

    “Rangkaian acara miladnya, pertama seminar tentang mitigasi bencana yang dilaksanakan hari ini. Kedua, bakti sosial yang akan dilaksanakan Dusun Gayam, Desa Giripurno, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang pada Sabtu-Minggu (5-6/10). Baksos sendiri itu bertujuan untuk memberikan sosialisasi dan edukasi lingkungan yang baik kepada masyarakat. Selain itu ada juga cek kesehatan bagi warga. Nah untuk kegiatan baksos ini kami menjalin kerja sama dengan UKM KSR PMI UNTIDAR,” tutur Hesti.

    “Ketiga, tasyakuran yang akan dilaksanakan pada (12/10) bertepatan dengan Mapala Sulfur didirikan. Tasyakuran itu, hanya untuk anggota Mapala (pihak internal) saja. Keempat, napak tilas yang akan dilaksanakan pada (25-27/10). Pada napak tilas itu, kembali ke tempat asal  usul kita dilahirkan. Jadi, kami akan melakukan pendakian di Gunung Sumbing, tempat di mana Mapala dilahirkan. Kelima, fun camp di Gunung Gianti pada (4-6/11),” imbuhnya.

    Pada ujung pernyataannya, Hesti mengungkapakan bahwa acara seminar terkait mitigasi bencana itu penting. Ia pun mengharapkan supaya ke depannya acara seminar ini menjadi acara yang berkelanjutan.

    Moh Naim, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, semester 3 menyatakan bahwa seminar tersebut menarik dan tema yang diambil panitia mampu menjadi daya tariknya. Ia mengikuti seminar tersebut guna menambah wawasan dan pengetahuan.

    “Acara seminar mitigasi bencana ini menarik karena seminar yang sering saya jumpai itu biasanya bertema tentang pendidikan, ekonomi, kewirausahaan dan sebagainya. Jadi, dari temanya itu menarik aja bagi kalangan mahasiswa,” kata Moh Naim. (IN)
Read more ...

Jumat, 27 September 2019

Aksi Damai Selesai, Kericuhan Dimulai


RICUH: Oknum massa yang tidak membubarkan diri, memicu kericuhan dengan membakar sampah
    Aksi damai yang berlangsung Kamis, (26/9) berakhir ricuh, hingga menimbulkan beberapa korban. Sejumlah elemen masyarakat mulai dari pelajar SMA dan SMK hingga mahasiswa dari Kota Magelang, Salatiga, dan Yogyakarta bersatu dalam Aliansi Magelang Bergerak untuk menyuarakan aspirasi di Gedung DPRD Kota Magelang. 


    Rangkaian aksi dimulai dengan long march dari Alun-Alun Kota Magelang menuju Gedung DPRD Kota Magelang, pukul 11.30 WIB. Pada pukul 14.20 WIB, area Pemerintah Kota (Pemkot) dan Kantor DPRD Kota Magelang mulai dipenuhi oleh massa. Pengawalan ketat dari aparat gabungan pun dikerahkan untuk menjaga kondusifitas. 

    Aparat yang bertugas langsung memposisikan diri ketika massa mulai memenuhi Jalan Sarwo Edi No.2. Aparat yang bertugas merupakan gabungan dari beberapa polres tetangga, Brimop, dan TNI. Ucapan selamat datang pun disampaikan oleh pewakilan anggota Polres Magelang begitu mobil komando berhenti di depan gerbang Gedung DPRD Kota Magelang.

     “Menurut  kami sebagai aparat, penyampaian pendapat di muka umum memang diatur di undang-undang. Tentu dengan penyampaian yang bisa menjaga ketertiban dan menyampaikan secara tertib. Kami mendukung karena memang ada dalam undang-undang. Namanya juga negara demokrasi,” ungkap Kapolres Kota Magelang, AKPB Idham Mahdi.

    Massa aksi damai meminta DPRD Kota Magelang untuk menyampaikan kepada DPR RI terkait tuntutan mereka, antara lain: 1) Mencabut RUU KPK, UU SDA dan UU Pemasyarakatan; 2) Batalkan pimpinan KPK terpilih, RKUHP, dan UU Minerba; 3) Sahkan RUU Masyarakat Adat dan PPRT; 4) Tolak Polisi dalam jabatan sipil; 5) Pidanakan semua pihak yang bersalah atas kebakaran hutan; 6) Bebaskan tahanan politik; serta 7) Hentikan kriminalisasi aktivis.

    Kegiatan berlangsung dengan damai dan kondusif pada awalnya. Meski terdapat beberapa kericuhan kecil yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang berhasil dihalau oleh pihak kepolisian dan dikondusifkan oleh panitia aksi. Pukul 15.35 WIB, seruan masa tersebut ditanggapi oleh DPRD Kota Magelang, Budi Prayitno terjun langsung ke lapangan menemui massa. Beliau bersedia menemui massa dengan mendengarkan aspirasi masyarakat dan menandatangani nota kesepakatan, yang disampaikam elemen masyarakat untuk diteruskan kepada DPR RI.

    Dalam sambutannya, Budi Prayitno, Ketua DPRD Kota Magelang mengatakan, “Sesuai tugas pokok dan fungsi anggota DPRD, kami menampung aspirasi para mahasiswa. Terima kasih kepada mahasiswa yang telah menyampaikan aspirasinya dengan tertib. Nanti melalui Sekwan, akan kami sampaikan aspirasi ini kepada pihak yang lebih berwenang,” ungkapnya.

    Merasa bahwa suara mereka telah didengar, para peserta aksi, terutama dari pihak mahasiswa mulai membubarkan diri diiringi dengan lagu buruh tani pada pukul 15.46 WIB. Beberapa saat setelah para mahasiswa membubarkan diri, masa yang tidak mengenakan identitas mulai membakar sisa-sisa atribut demonstrasi di tengah jalan. Selanjutnya, kericuhan pun pecah ditandai dengan lemparan batu di depan Gedung Pemkot di mana massa juga berusaha untuk menjebol Gedung Pemkot. Polisi pun segera bergerak dengan memecah masa menggunakan gas air mata. Sayangnya, masa yang ricuh dan terpecah justru menyebar di depan Gedung DPRD dan kembali melempar batu ke arah Gedung tersebut. Beberapa mahasiswa yang tersisa berlari untuk berlindung dari lemparan batu ke dalam Gedung DPRD. 

    Aparat sudah mencoba membubarkan masa dengan mulai maju ke arah Armada Town Square (ARTOS) dan Pakelan pada pukul 17.00 WIB. Bentrokan pun tak terelakkan antara aparat kepolisian dengan masa kericuhan yang menimbulkan beberapa korban luka dari pihak kepolisian. Beberapa saat kemudian, polisi berhasil menangkap sejumlah provokator dalam kericuhan dan memadamkan aksi anarkis yang dilakukan. Kericuhan akhirnya selesai diredam ketika maghrib tiba. Telah dikonfirmasi bahwa aksi kericuhan tersebut merupakan ulah beberapa pelajar dan pihak luar yang sama sekali tidak melibatkan mahasiswa. Hingga saat ini, pihak gabungan kepolisian masih mengejar para pelaku kerusuhan yang diduga oknum pelajar. 

    Dirpamobvit Polda Jateng Kombes Suparyono mengungkapkan pada detik.com bahwa puluhan orang yang diamankan kemudian dibawa ke Mapolres Magelang Kota untuk diperiksa. Mereka diduga massa yang melakukan perusakan. "Sementara dibawa ke Polres untuk dimintai keterangan, kurang-lebih ada 42. Mereka ada yang pelajar, ada yang wiraswasta, atau yang sudah lulus. Mahasiswa nggak ada." 

    Dilansir dari magelangekspres.com, korban luka dari kerusuhan yang terjadi ada dua orang dari anggota TNI dan Dishub, sementara belum terlapor adanya korban jiwa dalam aksi ini.
(CA/CS/DN/RO)



Read more ...

Kamis, 26 September 2019

DPR Eks Aktivis 98



Oleh: Ema Septiani 

Ilustrator: Ema S.
“…Ku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu mendemo sekarang ku didemo. Dulu,dulu,dulu, aku aktivis mahasiswa sekarang aku DPR…”

    Lirik lagu itu seolah menggambarkan tentang kondisi yang sedang dialami oleh beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dulunya merupakan mantan aktivis 98. Meskipun gerakan mahasiswa 1998 sudah 21 tahun berlalu, tetapi kisah-kisahnya terus melegenda dan selalu diceritakan pada acara-acara kaderisasi mahasiswa seperti saat kegiatan ospek. Mungkin kisah-kisah reformasi pula yang membentuk idealisme dalam diri mahasiswa. Bagaimana tidak? Pergerakan mahasiswa tahun 1998 telah berhasil menduduki gedung DPR dan menjatuhkan kekuasaan Soeharto serta mencetak sejarah di Indonesia yaitu masa Reformasi. Tahun 2019, peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa waktu terakhir seolah menyatakan bahwa reformasi belum benar-benar tuntas. Beberapa peristiwa yang terjadi kembali menyulut pemikiran kritis mahasiswa dan masyarakat Indonesia. Rakyat Indonesia seperti kembali menemui masa Orde Baru (Orba) dengan warna baru, sehingga mereka turun ke jalan untuk menuntaskan reformasi. Akan tetapi, ternyata beberapa anggota DPR juga pernah menjadi aktivis di masa Orba tahun 1998. Berikut ini adalah beberapa mantan aktivis 98 yang kini menjadi pejabat negara dilansir dari merdeka.com, (25/09):

1.    Desmond Junaidi Mahesa 
sumber: jawapos.com
   Mantan aktivis 98 ini, kini menjadi politisi dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Menjabat sebagai Wakil Ketua komisi III DPR periode 2014-2019 dari daerah Banten II. Pada pemilu 2019, ia kembali terpilih sebagai anggota DPR dari wilayah Banten II periode 2019-2024.

2.    Budiman Sudjatmiko 
sumber: tribunnews.com
    Sudah dua kali menjabat sebagai anggota DPR dari partai PDIP melalui Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Tengah VIII. Periode 2009-2014 dan periode kedua pada 2014-2019. Dalam Pileg 2019, ia menyalonkan diri di dapil Jawa Timut VII.

3.    Fahri Hamzah 
sumber: tribunnews.com
   Merupakan mantan aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Kini ia menjabat sebagai Wakil Ketua DPR dan anggota DPR komisi III lewat dapil NTB. Pada Pileg 2014, Fahri Hamzah terpilih sebagai anggota DPR dari dapil NTB. Tetapi, dalam Pileg 2019, Fahri Hamzah sudah tak mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Alasannya, ia ingin menyelesaikan masalahnya di internal PKS. 

4.    Adian Napitulu
sumber: okezone.com
   Mantan aktivis 98 ini menjabat sebagai anggota DPR sejak 2014-2019. Adian menjabat sebagai anggota DPR dari fraksi PDIP dan mewakili dapil Jawa Barat V (Bogor). Pada Pileg 2019, kemungkinan akan kembali ke Senayan. Ia nyaleg di dapil Jawa Barat V (Bogor).

    Dari data tersebut, lucu sekali jika dibayangkan bagaimana dulu mereka turun ke jalan dan berorasi menuntut reformasi. Sedangkan saat ini mereka menduduki kursi-kursi bekas pejabat yang dulu mereka tuntut. Kemudian, di masa sekarang mereka menciptakan Orde Baru dengan warna yang baru. Idealisme memang sebuah kekayaan yang dimiliki pemuda terutama mahasiswa. Akan tetapi apakah bisa dipastikan bahwa aktivis tak bisa salah kaprah ketika jalan hidupnya mulai berganti arah? Aktivis juga manusia biasa yang bisa kehilangan idealisme ketika telah berhadapan dengan realitas lalu memilih melupakan identitas. Dilansir dari liputan6.com, Jokowi menyebut-nyebut beberapa mantan aktivis 98 akan ditempatkan pada posisi penting di periode kedua pemerintahannya. Apakah status mantan aktivis 98 sudah cukup membuat kita yakin bahwa mereka tetap akan pro kepada rakyat atau justru mereka malah menjadi penjilat? Atau suatu hari mantan aktivis 2019 juga akan diberi posisi tinggi di pemerintahan? Negara ini seperti sedang dipermainkan padahal tuntutan rakyat dan akademisi bukanlah ‘guyonan’. Waktu dan keadaan dapat mengubah siapapun yang idealis menjadi realis dan bisa jadi mereka tak mau lagi bergerak secara gratis. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi aktivis mahasiswa yang sejak beberapa waktu lalu telah berjuang turun ke jalan, menyuarakan aspirasinya, membela rakyat Indonesia, membela negaranya yang sedang dijajah oleh bangsanya sendiri. Manusia tidak ada yang tahu apa yang terjadi di kemudian hari. Bisa saja, aktivis mahasiswa yang sekarang turun ke jalan juga akan menduduki kursi pejabat di masa depan. Perihal idealisme tetap ingin dipertahankan atau justru ditinggalkan, semua pilihan di diri individu masing-masing. Dalam dunia politik, tiada musuh abadi, tiada kawan abadi, karena segalanya ditentukan oleh faktor kepentingan. 
Read more ...

Rabu, 25 September 2019

UNTIDAR Jalani Diet Plastik

Oleh: Siti Indayani

Sumber: www.99.co
     Apa hal pertama yang Anda pikirkan ketika mendengar kata plastik? Hal awal yang terlintas ialah barang yang terbuat dari plastik, kantong kresek, botol air mineral, dan sebagainya. Ya benar, itu merupakan jenis barang yang terbuat dari plastik. Secara definitif, plastik merupakan bahan polimer sintesis yang dibuat melalui proses poli-merisasi, dimana benda itu tidak dapat lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Bahan polimer sintesis tersebut memiliki sifat yang sulit terdegradasi di alam dan membutuhkan waktu ratusan tahun agar dapat terurai. 

   Plastik dianggap sebagai penyumbang limbah terbesar. Peningkatan penggunaan barang berbahan dasar plastik berbanding lurus dengan penumpukkan limbah plastik yang dihasilkan, sehingga hal tersebut berakhir pada kerusakan lingkungan. Permasalahan sampah disebut sebagai hal yang krusial. Bahkan, sampah dapat dikatakan sebagai masalah kultural karena dampaknya yang tersebar diberbagai sisi kehidupan.

    Eksistensi sampah di muka bumi ini tentu akan berbalik menghancurkan kehidupan sekitarnya jika hal tersebut tidak segera ditangani. Mengingat bahwa limbah plastik sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Seperti asap pembakaran limbah plastik dapat mengakibatkan gangguan pernapasan, hepatitis, dan gangguan sistem saraf. Selain itu, limbah plastik juga mampu mencemari biota laut dan darat sehingga, dapat menyebabkan kematian pada hewan-hewan laut dan menurunkan tingkat kesuburan tanah.

    Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan limbah plastik. Salah satunya seperti isu yang sedangkan marak di kampus berakronim UNTIDAR, yaitu menerapkan peraturan tentang larangan penggunaan kemasan plastik sesuai instruksi dari Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI No. 1/M/INS/2019.
Sumber: www.123rf.com
   Walaupun rektor sudah menjalankan mandat dari Kemenristekdikti terkait hal tersebut, tapi dalam segi aplikasinya masih terbilang cukup kurang. Hal itu memang tidak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu hidup berdampingan dengan plastik.

  Seperti yang terjadi pada kegiatan Oreintasi Tidar Muda (Otadama) 2019, panitia masih menggunakan banner guna mendukung berlangsungnya acara tersebut. Hal tersebut mengakibatkan tuai kritikan di mata mahasiswa baru (Maba). 

   Mahasiswa dengan inisial NA, program studi S1 Hukum, semester 1 mengeluhkan, bahwa ada sebuah kejanggalan dalam Otadama universitas, yaitu tentang penggunaan banner plastik. Padahal, di kebijakan universitas sudah tertera tentang larangan penggunaan banner plastik. Akan tetapi, di Otadama universitas panitia masih menggunakan banner plastik.

  Pernyataan Maba berinisial NA tersebut, sesuai dengan Surat Edaran Rektor Untidar Nomor 80/UN57/2019, tentang larangan penggunaan kemasan plastik di lingkungan universitas, pada poin 2 yang berbunyi “Sivitas akademika Universitas Tidar diharap mengurangi penggunaan spanduk, backdrop, baliho, dan media sosialisasi lainnya yang berbahan plastik”. Surat Edaran tersebut dikeluarkan pada Rabu (3/7) lalu.

   Selain penggunaan banner dalam kegiatan, hal lain yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran ialah air mineral kemasan masih digunakan sebagai konsumsi pendukung kegiatan. Penulis sempat menjumpai dibeberapa kegiatan mahasiswa yang masih menggunakan air mineral kemasan. Seperti pada kegiatan seminar, workshop, training, dan sebagainya.

   Lingkungan Kampus Elang, masih minim dalam pengimplementasian peraturan yang dikeluarkan rektor. Respon mahasiswa terlihat masih rendah terhadap peraturan tersebut. Lalu, untuk apa peraturan dibuat jika tidak ditaati, dipatuhi dan dijalankan? Apakah peraturan tersebut hanya sebagai miniatur undang-undang kampus semata?

  Sebagai informasi, menurut Nasution (2015) dalam jurnalnya, sampah kantong plastik dapat menembus angka 400 ton per harinya. Program Lingkungan PBB, pada Juni 2006 mencatat, setidaknya terdapat 46.000 sampah plastik di lautan setiap mil persegi.
Sedotan Stainless: Salah satu bentuk solusi pengganti sedotan plastik (Sumber: tokopedia.com)
   Dengan demikian, untuk mengurangi penumpukan limbah plastik, kita dapat mengurangi penggunaan barang kemasan plastik sedikit demi sedikit, jika tidak bisa menghilangkan sepenuhnya. Kita bisa menggunakan benda-benda yang tidak sekali pakai. Selain itu, dalam penyediaan konsumsi di kegiatan kampus, misalnya forum rapat, seminar, dan workshop, alangkah baiknya jika tidak menggunakan air mineral dalam kemasan. Melainkan gunakan gelas kaca atau membawa botol minum pribadi (tidak sekali pakai). 

  Selanjutnya, patuhilah peraturan yang telah ditetapkan Rektor UNTIDAR sebagai modal pengurangan limbah plastik dalam ruang lingkup kampus. Selain itu, pihak kampus dapat memperjelas sanksi yang akan diberikan, apabila masih terjadi pelanggaran terhadap peraturan tersebut.

Read more ...

Rabu, 18 September 2019

Gala Premiere Film Titi Mangsa


TITI MANGSA : Film yang melalui penggarapan selama kurang lebih 7 bulan sejak bulan Februari sampai Agustus 2019 akhirnya launching

Magelang- Dor! Suasana menjadi pecah saat Gala Premiere film Titi Mangsa ditayangkan di BallRoom Hotel Atria Kota Magelang. Film yang diangkat dari kearifan lokal ini telah selesai launching.

Film yang disutradarai oleh Andika John Manggala sukses mengadakan Gala Premiere, kemarin (16/9). Delapan ratus pasang mata yang datang untuk menyaksikan perdana film Titi Mangsa di Ball Room Hotel Atria. Film yang menceritakan tentang perjuangan Pangeran Diponegoro itu sangat diapresiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang, “Kami mengapresiasi Film Titi Mangsa, kami berharap masyarakat Magelang lebih teredukasi, mencintai sejarah, dan upaya lebih baik untuk kebanggan identitas”, ujar salah satu perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang. 

Titi Mangsa juga digunakan untuk menjalankan strategi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang yaitu membawa kearifan lokal Magelang kepada masyarakat luas. “Ini adalah strategi kami untuk memperkenalkan kearifan lokal Magelang, tentang sejarah”, ujar wakil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Magelang. Film Titi Mangsa segera ditayangkan di Bioskop Magelang sebagai tuntunan bukan tontonan semata. “Film ini sebagai tuntunan masyarakat bukan sekedar tontonan”, tegas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Magelang.

Titi Mangsa memiliki alur yang sama dengan Babad Diponegoro. Film yang diperankan oleh Roni Sodewo yang merupakan keturunan ketujuh Pangeran Diponegoro. Hal ini lah yang menjadi kekhasan film tersebut. Menurut Roni, “Titi Mangsa memiliki arti bahwa sejarah kejayaan Magelang telah tiba saatnya, Pangeran Diponegoro menghentikan perang. Kita harus betul-betul menjaga yang dipinjamkan para pahlawan dan sudah saatnya kita sadar”. 

Melalui penggarapan selama kurang lebih 7 bulan sejak bulan Februari sampai Agustus 2019. Dilakukan oleh 27 tallent, 18 Pandora Film, dan 50 orang ekstras, Titi Mangsa masih dirasa belum memuaskan oleh sang sutradara.  Sutradara film ini mengatakan beliau kurang puas dengan film yang digarapnya “Saya kurang puas dengan film ini”, ujar John. Hal ini, disebabkan oleh 80% crew yang belum memproduksi film sebelumnya.
 (EW, GW)
Read more ...

Minggu, 08 September 2019

Hari-H Datang, Problem Lalu-lalang

GIANTRA: Salah satu cabang lomba pada kegiatan GIANTRA yaitu Joget Komando
UNTIDAR - Tiada bak ember pun jadi. Itulah pikiran Tia Intan Pramesti sebagai ketua panitia kegiatan “Giat Penegak Putri dan Putra” (GIANTRA) ketika kendala-kendala menghadang saat hari perlombaan pramuka telah tiba. Segala upaya dilakukan untuk menyukseskan GIANTRA Ke-II.
            
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pramuka Rancana Raden Antawirya-Nyai Ageng Serang menggelar perlombaan pramuka tingkat Bantara-Laksana sewilayah Karisidenan Kedu pada Sabtu, (7/9). GIANTRA Ke-II yang dilaksanakan di Universitas Tidar (UNTIDAR) tak lain dengan tujuan mengenalkan UNTIDAR di kalangan siswa-siswi SMA/SMK sederajat. Kegiatan tersebut berlangsung meriah, seperti yang yang dituturkan oleh Iwan Kurniawan, peserta lomba dari SMAN 5 Magelang. “Acara GIANTRA sangat ramai dan meriah, tuturnya. Kegiatan ini juga memberikan banyak pengalaman kepada peserta,Saya senang dengan adanya GIANTRA, karena dapat memberikan pengalaman dan arti kesabaran serta solidaritas yang tinggi,ujar Dio saputra, peserta GIANTRA dari MAN Temanggung.
            
GIANTRA diikuti oleh 192 peserta dari 14 sekolah. Adapun perlombaannya yaitu lomba cepat tepat Pramuka, joget komando, membuat miniatur pionering, teknologi tepat guna, poster dan vlog competition. GIANTRA mempersembahkan piala umum untuk peraih poin tertinggi dan diberikan kepada SMK Kesdam IV Diponegoro Magelang. Kegiatan ini dilaksanakan dua tahun sekali, peserta lomba pun berharap agar GIANTRA diadakan lagi, “Pesan saya untuk acara ini, semoga bisa dilaksanakan lagi, dan bisa lebih baik lagi," ujar M. Raihan Sabri, peserta GIANTRA dari SMK Kesdam IV Diponegoro Magelang.
            
Dibalik layar kegiatan tersebut, banyak sekali problem lalu lalang saat hari pelaksanaan tiba, seperti peminjaman perlengkapan dan tempat. Banyak sekali problem meski sudah persiapan semenjak 6 bulan lalu. Kami sudah izin ke WR 3 untuk meminjam sound system di Rumah Tangga, pas H-1 kami konfirmasi lagi ternyata tidak ada. Surat yang telah kami berikan dibaca pun tidak, bahkan setelah dicari lagi tidak ada. Kami sudah di acc, sedangkan ada ormada baru pinjam akhir-akhir ini dipinjamkan. Kami pinjam Ruang Multimedia untuk Technical Meeting tanggal 7 bilang bisa, setelah mau dipakai ternyata tidak bisa karena dipakai buat LPPM, kan trouble banget. Akhirnya kita memakai Lobi FKIP. Di Lobi FKIP sudah izin, tapi ternyata ada minat bakat, jadi kita melobi akhirnya mereka mengalah. Ini adalah masalah yang sangat gemradag. Kita H-1 bulan sudah ngasih surat peminjaman tetapi tidak diperhatikan,ujar Tia Intan Pramesti, ketua panitia perlombaan tersebut. Perlombaan berjalan dengan semestinya walaupun sedikit molor. “Pesan saya, semoga kegiatan nanti yang akan datang tidak molor lagi seperti hari ini," ujar Iwan Kurniawan, peserta GIANTRA dari SMA N 5 Magelang. (EWW/AF)

Read more ...
Copyright© 2016 Designed By Fery Firmanda.. FeryZone dot Com