Responsif, Progresif, Produktif


Breaking News

welcome

Selamat Datang di website Resmi LPM MATA UNTIDAR | Salam Pers Mahasiswa | update terus di www.lpmmata.com | Kunjungi official account kami | Instagram: @lpmmata_untidar | Youtube: LPM MATA UNTIDAR

Minggu, 30 Desember 2018

PBSI Kritik Krisis Indonesia Melalui Karya Sastra

Penampilan mahasiswa PBSI Untidar Semster 3 dengan tema kritik krisis Indonesia

Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Tidar semester 3, gelar pentas apresiasi karya sastra berjudul Ibuku Merindu dengan tema “Kritik Krisis untuk Indonesia” di Auditorium Universitas Tidar pada Jum'at malam (28/12). Judul pentas Ibuku Merindu dipilih karena memiliki makna bahwa,  Indonesia merindukan kedamaian dan ketentraman di dalam aspek ekonomi, sosial dan budaya. Acara ini terbuka untuk umum dalam rangka melaksanakan tugas Ujian Akhir Semester pada mata kuliah Apresiasi Karya Sastra. Acara ini dihadiri oleh beberapa dosen PBSI, mahasiswa UNTIDAR,  masyarakat umum serta mengundang sastrawan lokal seperti E.S Wibowo dan sastrawan dari Temanggung. Terdapat lima jenis karya sastra yang ditampilkan oleh masing-masing kelas yakni membaca puisi, musikalisasi puisi, puisi berantai, monolog, dan drama pendek. Pembacaan puisi oleh E.S Wibowo juga turut memeriahkan pentas ini. Selama acara berlangsung, terdapat beberapa kendala seperti kesalahan pengaturan lighting  yang kurang mendukung penampilan, backsound yang tidak dapat dimainkan, serta terdapat suara gaduh dari penonton yang kurang dapat dikondisikan.
“Pada saat musikalisasi puisi, backsound itu sempat tidak dapat dimainkan atau di play, karena ada gangguan dari kabel yang menghubungkan ke laptop itu agak kendor setelah itu kita ganti lagi baru bisa. Untuk lighting juga tidak banyak membantu, justru membuat silau pemain dan dilihat dari penonton kurang jelas,” jelas Alma Dhio Pasadhena selaku Ketua Panitia acara.
Ade Safri Fitria, salah satu koordinator kelas menambahkan, “Masih terdapat penonton yang gaduh, apalagi kami tidak menggunakan microphone kecuali pada saat musikalisasi puisi jadi itu cukup mengganggu.”

Tidak ada komentar:

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();
Copyright© 2016 Designed By Fery Firmanda.. FeryZone dot Com