Quarter life crisis merupakan istilah yang sering diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan mahasiswa. Masa perkuliahan yang kerap dianggap sebagai periode emas dalam kehidupan, ternyata menyimpan dinamika yang kompleks. Mahasiswa kini dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari tekanan ekonomi, sosial, hingga akademik. Biaya kuliah yang tinggi, kebutuhan tempat tinggal, uang buku, serta biaya hidup sehari-hari menjadi beban yang tidak ringan. Di sisi lain, pengaruh gaya hidup konsumtif dan citra “sempurna” di media sosial menambah tekanan psikologis yang semakin berat.



Fenomena quarter life crisis ini memunculkan masalah baru bagi mahasiswa. Pasalnya, ketika seseorang sedang mengalami masalah, fokusnya pasti akan terganggu. Dalam hal ini, persoalan ekonomi dapat menyulitkan mahasiswa untuk melakukan berbagai hal. Masalah baru yang muncul yaitu beban pikiran dan kebutuhan materi yang harus dipenuhi sendiri. Bagi seseorang yang mengalami quarter life crisis, mereka dituntut untuk hidup hemat dan cermat akan kebutuhan. Di samping itu, semangat belajar juga akan menurun apabila tidak ada dukungan finansial. Hal-hal ini yang kemudian menyebabkan tekanan mental dan akademik.



Semua orang pasti memiliki mimpi, begitu pula dengan mahasiswa. Tujuan mereka menempuh perkuliahan tentu untuk mengejar karir impiannya. Namun, dengan situasi yang tidak mendukung mereka pasti akan mengalami kesulitan untuk fokus akademik. Mahasiswa terpaksa disibukkan dengan pekerjaan sehingga harus mengorbankan waktu belajarnya. Tidak hanya itu, waktu istirahat juga ikut tersita karena bekerja. Kondisi ini membuat mahasiswa harus mengorbankan salah satu di antara kuliah, kerja, dan mimpi.



Masalah ekonomi menciptakan tantangan baru bagi mahasiswa. Tidak hanya tanggung jawab akademik, tetapi juga keharusan memenuhi kebutuhan sendiri menjadi perihal yang harus diperhatikan. Kenyataannya, mahasiswa memiliki cara untuk menyikapi masalah tersebut. Tak jarang mereka mengambil kerja paruh waktu dengan berjualan produk, membuka jasa, atau freelance. Mereka berusaha membagi waktu antara kuliah dan kerja agar kegiatan perkuliahan di kampus tidak terabaikan.



Kehidupan mahasiswa di era sekarang tidak lagi sesederhana mengejar nilai akademik. Mereka harus berjuang menyeimbangkan antara kebutuhan finansial, sosial, dan mental. Quarter life crisis bukan sekadar istilah populer, melainkan kenyataan hidup yang menuntut ketangguhan dan adaptasi. Mahasiswa yang mampu bertahan di tengah keterbatasan menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari kemewahan. Kesederhanaan, kerja keras, dan tekad untuk terus melangkah justru menjadi kunci untuk melewati masa-masa sulit. Pada akhirnya, keberhasilan bukanlah milik mereka yang hidup tanpa beban, melainkan milik mereka yang tetap tegar meski dunia terasa berat.




Penulis: Ibtisam Nur Afaf K & Nailatul Nginayah

Editor: Salma Haliza 



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama