Responsif, Progresif, Produktif


Breaking News

welcome

Selamat Datang di website Resmi LPM MATA UNTIDAR | Salam Pers Mahasiswa | update terus di www.lpmmata.com | Kunjungi official account kami | Instagram: @lpmmata_untidar | Youtube: LPM MATA UNTIDAR

Minggu, 29 Oktober 2017

Mahasiswa Jakarta Berkesempatan Kuliah Gratis di Untidar

sumber: humas untidar.
Lpmmata.com - Melalui KJMU, mahasiswa asal Jakarta berkesempatan untuk kuliah gratis di Universitas Tidar dan berhak atas biaya pendidikan sejumlah Rp 9 juta tiap semesternya. Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Tidar, Cahyo Yusuf, ketika mensosialisasikan program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) kepada 28 mahasiswa tahun akademik 2017/2018 asal DKI Jakarta, Sabtu (28/10).
“Saya berharap, mahasiswa bisa memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh bantuan pendidikan ini,” ungkapnya.
Penyaluran bantuan biaya pendidikan ini diberikan sejak peserta lulus seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan ditetapkan sebagai penerima KJMU. Program sarjana (S1) dan Diploma IV paling banyak 8 semester dan dapat diperpanjang paling banyak 2 semester dan program Diploma III paling banyaj 6 semester dan dapat diperpanjang 2 semester.
Syarat utama penerima KJMU ini seperti yang diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, beberapa waktu lalu adalah pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP). Meskipun begitu, Cahyo mengungkapkan mahasiswa yang tidak memiliki KJP tetap berhak mengajukan KJMU.
“Salah satu syarat utama adalah KJP. Namun, bagi mahasiswa yang tidak memiliki KJP tetap memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan KJMU,” katanya.
Persyaratan lain dalam mengajukan KJMU yakni memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan alamat di wilayah Provinsi DKI Jakarta, telah dinyatakan lulus sebagai peserta didik tingkat menengah pada satuan pendidikan negeri/swasta  di wilayah Provinsi DKI Jakarta paling lama satu tahun, berasal dari keluarga tidak mampu, mendaftar di PTN dan dinyatakan lulus seleksi dan tidak menerima beasiswa/bantuan pendidikan yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara atau sumber lain yang sah.
“Segera mendaftar dan melengkapi persyaratan-persyaratannya,” himbaunya.
Salah satu mahasiswa Jakarta asal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik program studi Ilmu Komunikasi, Reka Suhartati, menyayangkan prodi-nya yang belum terdaftar dalam sistem pangkalan data kementerian. Hal ini membuatnya mungkin akan kesulitan untuk mengajukan KJMU. “Beberapa persyaratan sudah kami ajukan tetapi masih terkendala belum terkoneksinya sistem pangkalan data kementerian dengan sistem Provinsi DKI Jakarta,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, David Budhi Hartono, Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswa (BAKPK) Untidar, menyatakan siap membantu dalam proses kelengkapan data mahasiswa yang mengajukan KJMU. “Masalah prodi baru yang belum terdaftar di Provinsi DKI Jakarta, bisa kami bantu dengan lampiran surat izin operasional prodi tersebut dari Kemenristekdikti,” ungkapnya.
Read more ...

Jumat, 27 Oktober 2017

Ayu Laksmi, Ibu yang Ditakuti Sekaligus Dirindukan

Ibu: Ayu Laksmi, sosok Ibu dalam Pengabdi Setan

Lpmmata.com - Kesuksesan Pengabdi Setan memang tidak perlu diragukan lagi. Tak tanggung-tanggung, film karya Joko Anwar itu tembus 3 juta lebih penonton. Ikon hantu ibu dalam film ini pun berhasil menjadi sosok yang ditakuti sekaligus dirindukan oleh para penggemar.
Ayu Laksmi sosok di balik hantu ibu dalam Pengabdi Setan, tak menampik banyak yang merindukan karakter yang dianggap menakutkan itu. “Takut sekaligus dirindukan. Antara benci dan cinta. Bahkan ada yang ketika saya dekati, bergetar,” ujarnya saat ditemui usai Press Conference Merajut Kebersamaan Umat Beragama dalam Kampung Pancasila di Jantung Kota Magelang di Atria Hotel, Kamis (26/10) lalu.
Namun, siapa sangka ternyata dirinya sudah turut bermain dalam 6 film, salah satunya Soekarno. Boleh dikata berjodoh dengan Pengabdi Setan, Ayu yang juga menjadi pengisi acara dalam peringatan Dua Abad Bangunan Cagar Budaya De Protestantse Kerk Te Magelang menerangkan kini banyak yang penasaran dengan sosok dirinya. “Terutama anak muda. Secara tidak sengaja jadi penasaran. Ini siapa sih ibu ini? Kok lucu banget, kok serem banget. Kok tiba-tiba muncul di dunia perfilman. Mungkin ‘ngga ngeh. Banyak juga yang nonton film Soekarno tapi dengan kemasan yang berbeda. Setiap film kan packagingnya berbeda,” katanya.
Dirinya mengaku terharu dan bersyukur atas munculnya film bergenre horor yang dibintanginya ini. Ia merasa beruntung melalui film ini dirinya yang sesungguhnya akhirnya terkuak di publik. “Saya yang sudah berjuang di musik sejak usia lima tahun mungkin hanya diapresiasi oleh sekelompok manusia akhirnya ketika film ini muncul ada anak-anak muda yang ingin mencari tahu tentang saya. Kalau boleh dikatakan ini situasi yang beruntung. Akhinya diri saya yang sesungguhnya pun diperkenalkan. Oh dia penyanyi, oh dia dia orang Bali. Dia bisa menari, main teater,” akunya.
Meskipun terkenal melalui sosok ibu dalam Pengabdi Setan, Ayu mengatakan tidak pernah berencana untuk bermain film. Penyanyi berusia 50 tahun yang salah satu albumnya berjudul Svara Semesta ini melihat situasi tersebut sebagai salah satu cara Tuhan memberikannya bekal untuk tetap konsisten bergelut di dunia seni. “Banyak artis yang berusia 50 tahun mulai mencari-cari peluang. Sebelum saya masuk level kekhawatiran itu saya seperti sudah diberikan petunjuk. Inilah sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bukti. Usia tidak menjadi penghalang untuk mencoba hal yang baru,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu pun, ia mengingatkan kepada generasi muda supaya tidak khawatir untuk menyajikan dan mencoba sesuatu yang baru. Ia mengharapkan agar anak muda tidak  ragu dan bersabar. “Saya usia 50 tahun, bernyanyi sejak usia lima tahun. Tapi saya terus di sana. Karena saya meyakini ini jalan hidup saya. Tapi tentu dulu tidak langsung menemukan jati diri. Nyoba ini, nyoba itu, dianggap tidak punya identitas. Ya tidak apa-apa, namanya belajar,” terangnya.
Menurutnya, itu menjadi hal yang wajar dalam mencari mana yang terbaik untuk menemukan sesuatu yang tepat, pantas, dan nyaman. “Karena kalau nyaman, bersumber dari, berakar dari darah nadi kita, maka dalam mempertanggungjawabkan karya lebih percaya diri,” kata Ayu. Sebaliknya, ia menambahkan jika sesuatu yang tidak berakar dari diri sendiri maka dalam mempertanggungjawabkan karya akan kurang maksimal.

“10% bakat, 90% kerja keras. Jadilah diri sendiri dan jangan takut untuk menunjukan sesuatu yang berbeda,” pesannya. (Flo)
Read more ...

Kamis, 26 Oktober 2017

Satu-satunya Finalis Asal IPA, Kevin Sempat Pesimis Jadi Dubas

SELAMAT: Kevin Aditia (kiri) dan Nidaul Husna (tengah), jawara duta bahasa 
dalam pemilihan duta bahasa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar.

Lpmmata.com - Kevin Aditia bersanding dengan Nidaul Husna berhasil menjadi jawara duta bahasa dalam pemilihan duta bahasa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar (Untidar) pada Bulan Bahasa 2017 bertajuk Penguatan Semangat Nasionalisme melalui Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Konteks Multikulturalisme, kemarin. Meski didaulat menjadi duta bahasa, siapa sangka Kevin awalnya merasa pesimis berjejer dengan para finalis lainnya.
“Tidak menyangka dapat terpilih menjadi duta bahasa. Apalagi duta bahasa untuk FKIP. Di antara semua finalis, saya adalah satu-satunya finalis dari prodi IPA yang merupakan prodi baru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tidar. Hanya saya yang merupakan peserta berlatar belakang non-bahasa,  itu yang membuat saya sempat pesimis,” ujarnya saat ditemui usai acara.
Mahasiswa semester 1 asal Pati tersebut mengaku gemar dengan ketrampilan berbahasa sejak duduk di bangku sekolah. Ketika SMA, ia sering melakoni perlombaan seperti baca puisi dan pidato dalam Bahasa Jawa. Kevin mengatakan dulunya ia sempat ingin melanjutkan ke prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, namun keinginan itu gugur karena dia diterima di prodi Pendidikan IPA. Meskipun begitu, menurutnya hal ini tidak dijadikan alasan untuk melupakan kegemarannya dalam berbahasa.
“Ini adalah salah satu cara saya untuk tetap melakukan kegemaran saya di samping turut mengangkat nama prodi,” katanya.
Winda Candra, salah satu juri dalam ajang ini mengaku puas dengan hasil dari pemilihan duta bahasa kali ini. Ia menerangkan para finalis, khususnya pemenang, telah memiliki kriteria-kriteria untuk menjadi duta bahasa. “Sesuai dengan namanya, duta bahasa. Mereka mempunyai kemampuan yang mumpuni yakni bagaimana berbahasa yang baik. Tidak hanya sekadar pengetahuan, akan tetapi dalam penggunaan praktis,” terangnya.
Selaku panitia, Theresia Pinaka Ratna menerangkan mahasiswa yang unjuk dalam acara final pemilihan duta bahasa ini adalah mahasiswa pilihan yang telah disaring sebelumnya. “Peserta harus melalui proses wawancara dan unjuk minat bakat, dari situlah akhirnya didapat 12 peserta atau 6 pasang finalis yang berhasil maju di final,” ujarnya.
Dalam ajang ini, Winda mengatakan Kevin bersama 11 finalis lainnya diadu untuk saling unjuk kemampuan dalam berbahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Inggris. “Kenapa harus Bahasa Jawa? Karena setting-nya ada di Jawa.  Bagaimana mereka memposisikan Bahasa Jawa sebagai bahasa yang eksis. Kemudian Bahasa Indonesia sendiri merupakan bahasa nasional dan bahasa persatuan. Apalagi sekarang Bahasa Indonesia digunakan oleh penutur asing, seperti BIPA. Sementara itu kita tahu bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Jadi mereka harus memiliki kemampuan baik secara teoritis ataupun penggunaan praktisnya untuk ketiga bahasa tersebut,” terang Winda.

Kevin bersama Nidaul Husna nantinya akan maju mewakili Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dalam pemilihan duta bahasa tingkat universitas dan diharapkan mampu mewakili universitas ke tingkat regional serta nasional. “Ini adalah tonggak awal untuk menemukan bibitnya. Kemudian melatih sesuatu yang sifatnya membangun. Semoga tidak menjadi akhir dari perlajanan mereka sebagai duta bahasa,” tambah Winda. (Flo)
Read more ...

Jumat, 06 Oktober 2017

English Week Asah Kemampuan dan Kreativitas Mahasiswa

TAMPIL: salah satu peserta English Week tampil menyanyikan lagu untuk memeriahkan acara tersebut Jumat (6/10) di Auditorium Universitas Tidar. Mata Photos

English Department Student Association (EDSA) Universitas Tidar (Untidar) menyelenggarakan program kerja terakhirnya bertajuk English Week: Upgrade Your Ability, Show Your Creativity pada 26 september hingga 06 oktober 2017. Merujuk pada tema yang diusung, serangkaian acara pada English kali ini lebih menekankan pada mengasah kemampuan dan kreativitas mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. “Kami mencoba memfasilitasi mahasiswa untuk menunjukan kemampuan mereka melalui event ini,” ungkap Ahmad Ruhin Hidayat, ketua panitia English Week.
Ada berbagai perlombaan pada acara tersebut, diantaranya News Ancor (membaca Berita), Spelling Bee, Speech (pidato), Essay dan Debate. “Berbagai perlombaan tersebut diikuti oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) dari semester satu hingga semester lima,” ungkapnya.
Meskipun persiapan terhitung singkat, EDSA berhasil merebut antusias mahasiswa dengan total peserta mencapai 109 peserta. “Acaranya cukup memuaskan walaupun dengan persiapan yang bisa dibilang mepet,” tutur Hastri Raras, salah satu peserta English Week.  Hal senada juga diungkapkan Diah Arifiana Safitri sebagai salah satu panitia English Week, menurutnya persiapannya terhitung singkat. “Persiapannya hanya sekitar 3 minggu dari persiapan hingga penutupan,” tambahnya.
Tidak hanya menyelenggarakan berbagai lomba, EDSA juga mewadahi mahasiswa yang memiliki bakat dibidang sastra untuk tampil pada acara penutupan yang diselenggarakan di Auditorium (06/10).  Acara tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa dan dosen PBI. Seluruh penonton akan menyaksikasan pertunjukan sastra diselingi dengan pembacaan pemenang lomba English Week 2017.
Panitia juga mengaku bahwa dalam menyelenggarakan acara masih terdapat banyak kekurangan, “Ini kan baru pertama kali tentunya masih banyak kekurangan,” tambah Ahmad Ruhin Hidayat. Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu panitia English Week, “karna berbarengan dengan kegiatan perkuliahan, jadi susah mengkoordinasikan jadwal dosen dan mahasiswa sebagai peserta dan juri di setiap lomba,” tutur Diah Arifiana.
Namun, terlepas dari kekurangan yang terjadi selama penyelenggaraan acara ini, panitia berharap melalui acara tersebut, mahasiswa PBI dapat berkarya positif dan mengembangkan bakatnya. “Kami yakin mahasiswa PBI sangatlah berbakat diberbagai bidang,  event ini menjadi wadah bagi mereka untuk bersaing dalam hal yang positif,” tambah Ahmad Ruhin Hidayat. “Semoga acara tahunan ini bisa terus berkembang dan lebih sukses kedepanya,” pungkasnya. (lil)


Read more ...
Copyright© 2016 Designed By Fery Firmanda.. FeryZone dot Com