Magelang – Paguyuban Peternak Petelur Magelang (PPM) yang dinaungi Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) mengadakan aksi damai peternak ayam petelur di wilayah Magelang pada Senin (10/8). Tujuan dilakukannya aksi tersebut adalah untuk menyampaikan aspirasi dari peternak kepada pemerintah dan pihak-pihak terkait serta pembagian ayam kepada masyarakat yang datang sekitar 1.250 ekor ayam layer (petelur) afkir/ tidak produktif. Masyarakat sangat antusias untuk datang, karena ingin mendapatkan ayam tersebut. Aksi damai dilakukan di Alun-Alun Kota Magelang yang bertepatan di depan Mall The Aloon-Aloon, aksi dimulai pukul 10.00-12.00 WIB yang diawali dengan pembukaan dan orasi, di tutup doa bersama dan dilanjutkan dengan pembagian ayam.  



Dalam aksi damai, orator menyampaikan aspirasi dengan poin-poin yaitu perpanjang jagung subsidi sampai bulan Desember 2026, mengajak masyarakat membeli dan mengkonsumsi telur, menuntut pemerintah menstabilkan harga telur, SPPG meningkatkan kuantitas pembelian telur, dan program pemerintah harus menyertakan telur di dalamnya. Permasalahan tersebut diiringi dengan harga pakan yang terus meningkat. Menurut pengakuan koordinasi inti aksi, Arif Sosiawan, kenaikan pakan jadi dari 3 bulan terakhir meningkat sekitar Rp6.200 menjadi Rp7.600-Rp8.000 per kg (bervariasi tergantung pabrik dan spesifikasi/kualitas). Kenaikan pakan jadi dipicu oleh naiknya harga dolar karena sebagian besar bahan pakan masih impor seperti kedelai/soybean Meal (SBM) dari Amerika, Argentina, Brazil, dan India. Sehingga harga jadi ikut meningkat, pakan menyumbang 80% dari total biaya produksi peternak, sementara 20% untuk tenaga kerja, operasional, dan sarana. 

Berdasarkan wawacara, permasalahan tersebut menimbulkan kerugian pada peternak sekitar Rp2.000–Rp3.000 per kg karena Harga Pokok Produksi (HPP) meningkat, sementara harga jual telur berada di bawah HPP. Akibatnya, peternak mengalami kerugian hingga jutaan rupiah per hari tergantung populasi ayam. Meskipun pemerintah menetapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp26.500, harga telur di pasar sulit bertahan naik karena keterbatasan daya beli masyarakat dan oversupply. Penyerapan telur ke program MBG belum efektif. Kesepakatan harga Rp26.500 dengan BGN (Badan Gizi Nasional) belum sepenuhnya diterapkan di tingkat dapur/mitra perorangan yang cenderung membeli dengan harga pasar yang lebih murah (sekitar Rp22.000). Sementara itu, terkait isu monopoli bungkil kedelai, coordinator aksi Arif Sosiawan menyatakan bahwa berdasarkan keputusan Rakortas Menko Pangan dan Presiden, tidak ada monopoli.  Kuota impor ditetapkan sebesar 60% untuk BUMN dan 40% untuk swasta/importir umum. 


Penulis : Ahmad Nasrulloh

Editor : Yeni





Post a Comment

Lebih baru Lebih lama