Sumber : Dokumentasi Penulis
PURWOREJO - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 Desa Plipir, Purworejo periode Juli—Agustus 2026 menggagas inovasi akuaponik galon lele yang disebut Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember). Kegiatan ini digagas sebagai solusi untuk mengurangi sampah plastik berupa galon sekaligus mendukung ketahanan pangan di lahan sempit. Sosialisasi dan praktik pembuatan budikdamber digelar pada Jumat (24/7/2026) pukul 14.00 WIB di Rumah Kepala Dusun Plipir Tengah.
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja unggulan yang digagas mahasiswa KKN sebagai upaya menjawab persoalan sampah galon plastik bekas yang kerap menumpuk di lingkungan warga. Melalui metode budikdamber, galon bekas air mineral diubah menjadi media akuaponik sederhana yang memadukan budidaya ikan lele dengan penanaman sayuran seperti kangkung, sawi, pakcoy, dan bayam.
Alat yang dibutuhkan untuk membuat budikdamber relatif sederhana, yakni galon bekas, ceting plastik, serta cutter atau gunting. Sementara itu, bahan yang digunakan meliputi bibit ikan lele, bibit sayuran, media tanam berupa arang sekam atau rockwool, air bersih, dan pakan ikan. Seluruh alat dan bahan tersebut mudah diperoleh dengan biaya yang relatif terjangkau.
Proses pembuatannya diawali dengan mencuci bersih galon bekas, lalu memotong bagian atasnya sesuai ukuran ceting plastik agar dapat bertumpu sesuai di bibir galon. Ceting yang digunakan harus memiliki lubang di bagian bawah. Jika jumlah lubangnya belum mencukupi, maka dapat ditambah lubang lagi menggunakan gunting agar akar tanaman dapat menjulur ke bawah.
Sebagai penghubung antara air dan media tanam, dipasang sumbu dari kain flanel yang dimasukkan melalui lubang bawah ceting dengan sebagian kain dibiarkan menjuntai ke dalam air agar dapat menyerap air menuju akar tanaman. Media tanam kemudian dimasukkan ke dalam ceting dan bibit sayuran ditanam tepat di bagian tengahnya.
Galon diisi air sekitar 2/3 hingga 3/4 bagian. Khusus air PDAM, air perlu didiamkan selama 24 jam sebelum digunakan. Setelah itu, sekitar lima sampai sepuluh ekor bibit lele dimasukkan ke dalam galon. Kemudian, ceting yang sudah berisi tanaman diletakkan di atasnya hingga bagian sumbu menyentuh permukaan air. Disamping itu, perawatan budidaya ini tidak rumit karena ikan cukup diberi pakan dua kali sehari, air ditambah apabila volumenya berkurang, dan akuaponik diletakkan di lokasi yang mendapat sinar matahari sekitar 4—6 jam per hari.
Kepala Dusun Plipir Tengah, Rismayanti, menyambut baik inovasi yang dibawa mahasiswa KKN tersebut. Ia mengaku senang karena kegiatan ini tidak hanya mengajak, tetapi juga mengajarkan warga untuk lebih kreatif dalam mengolah sampah. Selain itu, selama kegiatan berlangsung banyak warga yang antusias serta ingin mencoba membuat akuaponik sendiri.
“Alhamdulillah ada kegiatan yang mengajak dan mengajarkan warga untuk lebih kreatif dalam mengolah sampah, selama kegiatan banyak warga yang antusias dan ingin mencoba akuaponik. Semoga bermanfaat dan bisa berkelanjutan. Terima kasih atas ilmu yang diberikan, semoga bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari warga Desa Plipir,” ujarnya.
Penulis: KKN Untidar Kelompok 1 Desa Plipir Purworejo
