Di salah satu sudut lapangan di Muntilan, Kabupaten Magelang, sebuah lapak sederhana hadir membawa sesuatu yang tak biasa. Bukan lapak makanan maupun lapak minuman, tetapi lapak baca gratis yang menghadirkan buku bacaan yang tersusun rapi di atas tikar. Tempat ini menjadi perpustakaan jalanan, ruang membaca yang hadir di tengah-tengah ruang publik.
Perpustakaan biasanya identik dengan gedung tertutup dan rak-rak tinggi tempat buku-buku disusun. Namun, perpustakaan jalanan ini hadir dalam bentuk yang berbeda. Buku bacaan dengan jenis yang beragam tersusun rapi di atas tikar, mulai dari buku cerita, pengetahuan, hingga bacaan anak. Semuanya dapat diakses secara gratis, membuat lapak ini menjadi ruang untuk mendekatkan literasi kepada masyarakat.
Perpustakaan
jalanan ini pertama kali hadir pada 2017 dan sempat vakum pada 2019. Namun,
kini dilanjutkan oleh dua orang lelaki atau generasi kedua yang meneruskan
keberlangsungannya hingga kini. Mereka ingin membangun ruang yang bebas untuk
menumbuhkan kesadaran membaca di tengah masyarakat karena mereka percaya bahwa
menuntut ilmu dapat dilakukan di mana saja bahkan di jalanan sekalipun.
Bagi pengunjung, keberadaan lapak ini membuat membaca menjadi aktivitas yang terasa lebih santai. Buku-buku dapat dibaca sambil duduk di ruang terbuka dengan suasana yang lebih bebas dan tidak terlalu kaku seperti di perpustakaan pada umumnya. Hal sederhana inilah yang membuat perpustakaan jalanan memiliki daya tarik tersendiri. Buku tidak lagi menunggu didatangi, tetapi justru dibawa menjadi lebih dekat dengan masyarakat.
Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan dunia digital, perpustakaan jalanan menjadi salah satu cara menjaga buku agar tetap memiliki ruang. Kehadirannya mungkin sederhana dan tidak menjangkau banyak tempat, tetapi dari ruang kecil inilah literasi terus tumbuh dan hidup.
Penulis:
Inggar Lutfi Ani
Editor : Salsa
Layouter: Amar Jaya N