Tidak jarang, anak muda sekarang punya pandangan untuk senantiasa tampil beda setiap harinya. Hanya karena dihantui komentar "outfit repeater" yang berseliweran di internet, bukan berarti kita tidak boleh memakai baju yang sama. Fenomena ini tanpa sadar menjadi ajang siapa yang paling sering bergonta-ganti fashion, tanpa tahu bagaimana dampak yang dibayarkan.
Label "outfit repeater" sebenarnya bukan candaan di kalangan masyarakat, melainkan narasi yang dirancang untuk menimbulkan kecemasan sosial. Khawatir dicap sebagai sosok yang ketinggalan zaman, cemas akan bisikan tetangga tentang fashion yang dipakai. Mungkin terdengar biasa saja, namun kondisi psikologis kita seakan-akan sedang ditinju oleh pukulan tak kasat mata.
Algoritma media sosial menjadi salah satu sebab merajalelanya tren fashion. Di balik layar gawai, mesin kapitalisme fast fashion berputar memanipulasi sisi psikologis kita. Demi memutar roda kapitalisme, tren sengaja diciptakan untuk cepat mati. Industri fashion bekerja dengan mengurangi masa kadaluwarsa agar kita merasa haus dan kurang meski lemari pun sudah tak sanggup menjadi tempat pengungsian.
Setiap hari, ada saja tren baru yang singgah di FYP kita. Tren ini tidak berganti setiap musim, melainkan dalam jangka waktu yang relatif cepat. Kita disuguhi dengan guliran tren fashion, layaknya itu adalah jamuan setiap berkunjung ke toko baju. Terdengar menyenangkan, namun efeknya membahayakan.
Kesenangan instan yang kita alami ketika membeli baju baru adalah awal mula bumi menjerit meminta pertolongan. Nyatanya, kesenangan itu adalah hasil tipu daya pasar agar kita selalu ingin lebih. Kita dibuat terlena dengan model baju trendy, tapi dibuat lupa akan tempat kita bernafas.
Bumi, tempat berakhirnya baju-baju fast fashion itu dibuang menjadi sampah. Sampah yang setiap saat berbaris menuju pembuangan akhir karena kita tidak lagi menginginkan baju itu dan karena hari ini sudah bukan tren baju ini. Pakaian bukan lagi sandang untuk jangka panjang, melainkan limbah instan yang menyamar sebagai tren siap pakai.
Mengikuti tren di media sosial bukanlah suatu kesalahan. Membeli tanpa melihat konsekuensi adalah sumber masalah. Kita ingin terlihat modis, tapi kita juga tidak peduli akan masa depan bumi. Kita berhak mendapatkan perlakuan berharga, tetapi bumi kita juga berhak untuk melanjutkan hidupnya.
Penulis: Dita Nurul Azizah

