Responsif, Progresif, Produktif


Breaking News

welcome

Selamat Datang di website Resmi LPM MATA UNTIDAR | Salam Pers Mahasiswa | update terus di www.lpmmata.com | Kunjungi official account kami | Instagram: @lpmmata_untidar | Youtube: LPM MATA UNTIDAR

Kamis, 24 Januari 2019

Di Balik Polemik Kalender Akademik

UNTIDAR - Diterbitkannya revisi kalender akademik pada Selasa (22/1) tak hanya menimbulkan simpang siur, tapi juga pertanyaan. Sehari setelah itu, Rektor UNTIDAR, Prof. Dr. Ir. Mukh Arifin, aM.Sc. mengungkapkan alasan di balik perubahan kalender semester genap. Perubahan ini bertujuan untuk mempersiapkan adanya semester antara pada semester depan.

Ketika ditemui di ruangannya, rektor yang akrab disapa Prof. Arifin ini memperjelas alasan diubahnya kalender akademik tersebut. “Kita akan merancang semester sisipan atau semester antara untuk membantu mahasiswa yang ingin memperbaiki nilainya, supaya mahasiswa bisa lulus cepat tidak harus mengulang di semester berikutnya atau tidak perlu menambah semester,” ungkapnya.

Standar peraturan perguruan tinggi mengenai semester antara sudah ada, namun di UNTIDAR belum diterapkan. Semester antara ini pembayarannya akan dihitung per-SKS. Mengenai semester antara ini dibahas dan disosialisasikan pada pertemuan Wakil Dekan pada Rabu (23/1) di Solo.

Terkait masa waktu pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), berdasarkan yang disampaikan rektor, dapat dilakukan sejak Senin (21/1) lalu sampai batas akhir pengisian Kartu Rencana Studi (KRS). Pengisian KRS tersebut dapat dilakukan mulai 18 Februari - 1 Maret 2019 sesuai kalender akademik yang telah direvisi.

Ia menegaskan, semua kegiatan selama semester genap tahun ini mengacu pada kalender akademik yang telah direvisi dan diunggah pada web UNTIDAR. (MR/RIL)
Read more ...

Simpang Siur Kalender Akademik Semester Genap


UNTIDAR - Selasa (22/1) pagi, keresahan civitas academica UNTIDAR terkait simpang siur kalender akademik semester genap mereda setelah humas UNTIDAR mengunggah revisi kalender akademik di web resminya. Hal itu dilakukannya ketika LPM MATA mendatangi Ruang Rektorat untuk mengklarifikasi terkait kebenaran revisi kalender akademik ilegal yang telah beredar sebelumnya.

Namun sayangnya, kalender akademik (berupa gambar) yang diunggah tidak selaras dengan Surat Keputusan (SK) Rektor UNTIDAR Nomor 10/UN57/AK/2019 tanggal 21 Januari 2019 tentang Revisi Kalender Akademik dan Kemahasiswaan UNTIDAR Tahun 2018-2019 yang juga diunggah di web pada waktu bersamaan. Salah satu perbedaannya, yaitu waktu pelaksanaan UTS di SK Rektor yang tertera bahwa UTS dilaksanakan pada 22 April - 4 Mei 2019. Sedangkan pada kalender akademik, UTS dilaksanakan pada 18-29 Maret 2019. Hal ini menimbulkan kebingungan terkait manakah yang harus dianut. Beruntung tak berselang lama, pihak terkait telah menghapus bagian yang tidak sinkron tersebut meski tidak direvisi di bagian keterangan. 

Sebelumnya, bahkan telah tersebar surat edaran mengenai perubahan kalender akademik sejak Senin (21/1) siang. Rasyid Wicaksana Hadi S.Pd., sekretaris rektor Universitas Tidar (UNTIDAR) membenarkan adanya revisi kalender akademik, tapi dalam surat edaran yang tersebar tersebut belum sesuai dengan kode etik, seperti belum adanya kop surat dan cap resmi. Hal tersebut sempat membuat "geger" warga UNTIDAR. 

Meski demikian, hasil revisi kalender akademik tersebut menggembirakan para mahasiswa sebab merupakan realisasi aspirasi mahasiswa yang telah disampaikan ketika talk show LPM MATA bersama rektor pada Jumat (11/1) dan telah rilis di kanal Youtube LPM MATA. (MUB, NMN, SN) 
Read more ...

Rabu, 16 Januari 2019

Mahasiswa PBSI UNTIDAR Suguhkan Senandung Bahana Nusantara yang Ciamik


Tampil Ciamik: Salah satu penampilan ciamik dari mahasiswa PBSI semester 5, yaitu kelas 5B (Credit photo: JMB Creative) 

UNTIDAR - Mahasiswa semester lima Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Tidar berhasil menyuguhkan pentas bertajuk Senandung Bahana Nusantara yang ciamik, Selasa (15/1). Pentas yang digelar di Auditorium Universitas Tidar ini dimulai sejak pukul 09.30 WIB. Selain untuk melengkapi tugas akhir mata kuliah Ilmu Perbandingan Bahasa Nusantara (IPBN), acara ini bertujuan untuk menghibur dan memperkenalkan bahasa di nusantara melalui lagu daerah serta mengapresiasi lagu tersebut dengan pementasan.

Para dosen dan mahasiswa UNTIDAR serta sejumlah tamu dari Filipina dan Jepang turut menghadiri pergelaran seni tersebut.

Pentas ini digelar dalam bentuk paduan suara dengan koreografi tarian yang menggabungkan beberapa gerakan tradisional nusantara dan tarian modern dalam setiap gerakan serta memperlihatkan keindahan musik jimbe, rebana, cajon, keyboard, gitar dalam memainkan lagu-lagu nusantara.

Selain bernyanyi, mahasiswa PBSI telah menganalisis bahasa dalam lagu tersebut. Hal itu dituturkan dosen mata kuliah IPBN, Dr. Yulia Esti Katrini, M.S. bahwa sebelumnya, mereka harus mengumpulkan paper yang di dalamnya menganalisis sistem fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa daerah yang mereka pilih. Kemudian, bahasa dibandingkan untuk menentukan hubungan kekerabatan dengan bahan kosakata bahasa dan lirik lagu yang mereka pilih.

Mengawali rangkaian pentas, para mahasiswa menyanyikan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman dilanjutkan Magelang Kota Harapan milik Sukimin Adiwiratmoko untuk menyambut para penonton.

Semester 5 PBSI dengan total 120 mahasiswa terdiri dari 3 kelas, sehingga ada 3 kelompok yang masing-masing menampilkan dua lagu daerah dari wilayah yang berbeda. Kelas A menyanyikan Yamko Rambe Yamko dari Papua dan Ampar-Ampar Pisang dari Kalimantan Selatan. Kemudian kelas C menyanyikan Nasonang dari Batak dan Cangget Agung dari Lampung. Dilanjutkan kelas B yang menyanyikan Aceh Lon Sayang dari Nangroe Aceh Darussalam dan Sungai Kapuas dari Kalimantan Barat.

Penampilan dengan durasi hampir dua jam itu berhasil memukau penonton. Azizah Wahyu, salah satu penonton yang merupakan mahasiswi semester 5 PBI UNTIDAR mengaku terpukau oleh penampilan yang menyanyikan sejumlah lagu tradisional nusantara tersebut.

"Saat nonton, saya melongo. Berasa nonton Grandio Sonora Tidar (GST) versi 2. Ternyata bukan anak paduan suara (padus) juga bisa nyanyi format padus," ungkapnya.

Suasana hening namun penuh ekspresi kekaguman juga ditunjukkan para penonton ketika nyanyian dengan dinamika dan harmonisasi yang ciamik serta koreografi menawan disuguhkan secara kompak dari tempo dan teknik gerak. Konsep pentas yang dikemas dengan gerakan yang juga energik memberikan warna baru dalam multigerak yang mereka tampilkan. Dengan balutan kostum daerah yang serasi dan indah semakin menambah keagungan tampilan paduan suara.

Acara yang gratis dinikmati untuk umum ini tidak hanya menyajikan tarian dan nyanyian, para penonton juga disuguhkan snack.

Lagu penutup yang disajikan para mahasiswa dalam pementasan tersebut adalah Suwe Ora Jamu dari Jawa Tengah dan Zamrud Khatulistiwa yang dipopulerkan oleh Chrisye. Tak hanya itu, di akhir acara, penonton diajak terlibat dalam flash mob Poco-Poco dari Maluku. Hal itu membuat penonton bergembira dan antusias berjoget bersama meramaikan suasana.

"Seru, apalagi saat Poco-Poco, semua penonton termasuk dosen terlibat," ujar Azizah.

Ahmad Maulana Ghufar selaku ketua panitia menuturkan, dirinya bangga dan sangat berterima kasih atas sambutan positif para penonton. Ia mengaku bahwa persiapan yang dilakukan terbilang cukup singkat dalam menunjukkan keindahan lagu-lagu bahasa nusantara dengan koreografi yang dibuat.

"Semoga pementasan IPBN selanjutnya bisa lebih bervariasi dan inovatif, serta dibarengi dengan persiapan yang jauh lebih matang, karena persiapan yang matang akan menjadikan pementasan yg lebih baik," pungkasnya. (RMN/MILS/SPU)

Read more ...
Copyright© 2016 Designed By Fery Firmanda.. FeryZone dot Com