Responsif, Progresif, Produktif


Breaking News

welcome

Selamat Datang di website Resmi LPM MATA UNTIDAR | Salam Pers Mahasiswa | update terus di www.lpmmata.com | Kunjungi official account kami | Instagram: @lpmmata_untidar | Youtube: LPM MATA UNTIDAR

Minggu, 19 Juni 2016

“Talkshow dan Training Motivation “Inspirasi Untidar untuk Indonesia” bersama SM-3T dan Guru Perintis” Sadarkan Mahasiswa Turut Siapkan Generasi Emas Indonesia

T
alkshow dan Training Motivation “Inspirasi Untidar untuk Indonesia” bersama SM-3T dan Guru Perintis merupakan acara yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Bidikmisi Universitas Tidar (Himadiktar) sadarkan mahasiswa bahwa tidak ada hal apapun yang dapat menghalangi dalam meraih cita-cita guna memajukan pendidikan Indonesia menuju generasi emas Indonesia. “Tidak ada aral untuk meraih cita-cita untuk memajukan pendidikan Indonesia menuju generasi emas Indonesia,” tutur Dr. Farikha M.Pd., Pembina Bidikmisi Universitas Tidar (Untidar), ketika beri sambutan di Talkshow dan Training Motivation “Inspirasi Untidar untuk Indonesia” bersama SM-3T dan Guru Perintis, Sabtu (18/6) di Auditorium Untidar.
SIAP ISI TALKSHOW: Pemateri dari SM-3T, Indonesia Mengajar, 
                                      dan Guru Perintis bersiap untuk sampaikan 
                                      materi pada Talkshow dan Training Motivation 
                                      “Inspirasi Untidar untuk Indonesia” 
                                      bersama SM-3T dan Guru Perintis,
                                      Selasa (18/6). (Mata Foto)
Talkshow ini menghadirkan Rahayu Setiyaningrum, Umi Qodarsasi, Anisatul Fuadiyah, Amar Ma’ruf, dan Joko Rianto, orang-orang yang berdedikasi pada pendidikan lewat program (Sarjana Mengajar-Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) SM-3T, Indonesia Mengajar, dan Guru Perintis. Meskipun program yang mereka ikuti berbeda nama, akan tetapi tujuan mereka sama, menyiapkan generasi emas Indonesia. Program-program tersebut merupakan program yang difokuskan untuk meratakan pendidikan dan mengatasi kesenjangan pendidikan di daerah-daerah tertinggal yang mungkin tidak terjamah oleh pendidikan yang layak. Hal ini diberikan sebab kemungkinan besar banyak potensi-potensi luar biasa yang dapat digali dari mereka-mereka yang berada di daerah terpencil. “Ada mutiara bangsa yang terpendam di daerah terpencil. Bukan berarti mereka bodoh. Melainkan belum terfasilitasi,” ujar Umi Qodarsasi, Indonesia Mengajar Pulau Beeng Darat, Tabukan Selatan Tengah, Kab. Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

            Adanya acara ini, semua mahasiswa diharapkan mampu tergerak untuk peduli dengan pendidikan Indonesia yang dirasa masih belum menjamah ke seluruh daerah. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Tergerak saja tidak cukup tanpa disertai dengan bergerak,” begitu kata Amar Ma’ruf, SM-3T Angkatan II, Kampung Kulur II, Kec. Tabukan Tengah, Kab. Kepulauan Sangihe,  Sulawesi Utara. Menuju generasi emas Indonesia, Indonesia perlu untuk membuat perubahan dengan melakukan tindakan dalam dunia pendidikan. “Satu kata dapat merubah makna kalimat. Sama, satu tindakan dapat merubah pendidikan Indonesia,” tambahnya.  Seperti yang dikatakan oleh Amar, akan ada tidaknya generasi emas Indonesia tergantung pada orang-orang yang terdidik saat ini sebab pendidikan tanggung jawab bagi semua orang yang terdidik. (Flo/ Lpm Mata)
Read more ...

“Gelar Sastra” Bangunkan Mahasiswa Tumbuhkan Cinta Sastra

M
TAMPILKAN MUSIKASILASI PUISI: Salah satu penampil perwakilan 
                                                          dari Fakultas Pertanian unjuk bakat 
                                          dalam musikalisasi puisi 
                                                       pada Gelar Sastra, Jum’at (17/6). 

ahasiswa Universitas Tidar (Untidar) diingatkan kembali untuk menumbuhkan rasa cintanya terhadap sastra. “Gelar Sastra” pada Jum’at (17/6) kemarin, seolah menjadi gertakan tersendiri bagi mahasiswa untuk tidak menghilangkan sastra dalam kehidupan yang dirasa sudah mulai luntur rasa kepeduliannya terhadap pentingnya menjaga kelestarian sastra. “Karena kecintaan mahasiswa terhadap sastra sendiri semakin luntur,” tutur Ketua Pantia Gelar Satra, Muhammad Raharjo.
Mengusung tema “Menunggu Senja Sambil Bersastra”, acara yang berlangsung di lapangan FKIP tersebut berhasil menarik partisipan mencapai peserta yang tampil dari masing-masing perwakilan tiap prodi ataupun tiap fakultas serta dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Deretan penampilan seperti teater dan monolog; akustik; musikalisasi puisi; serta stand up comedy, disuguhkan kepada penonton sambil menghabiskan waktu menunggu buka puasa tiba.Berbicara mengenai sastra, sastra mungkin berkaitan erat dengan bahasa. Akan tetapi pelaku sastra tak harus dari orang yang berlatarbelakang bahasa. Inilah yang coba ditunjukkan dan digaris bawahi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (HIMPRO PBSI) “Gelar Sastra”, mengingat bahwa setiap orang bisa saja memiliki bakat terpendam dan tidak tahu menuangkan bakat tersebut di mana. “Ini wadahnya. Memberikan kebebasan dan ruang seluas-luasnya kepada seluruh mahasiswa yang mungkin memiliki bakat terpendam,” ujar Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd., Kepala Program Studi (Kaprodi) PBSI.
Sebenarnya ini bukan kali pertama HIMPRO PBSI mengadakan pagelaran sastra. Tahun lalu acara yang sama dengan nama yang sama juga diadakan. Namun hanya sebatas mimbar bebas sebagai tempat mereka menampilkan apa yang ingin mereka tunjukkan. Kali ini ada yang berbeda dari Gelar Sastra sebelumnya. Dekorasi yang sederhana namun bermakna dan tersembunyi filosofi di baliknya. “Dua topeng dan dua ekspresi yang berbeda itu menunjukkan kondisi Indonesia saat ini. Yang sedang tertawa diibaratkan pemimpin dan yang menangis adalah rakyatnya,” tutur Raharjo.

Lukisan dari serbuk gergaji yang menjadi dekorasi utama dalam Gelar Sastra tersebut merupakan hasil karya mahasiswa PBSI yang memenangkan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun lalu. Seperti yang dipaparkan Raharjo, lukisan tersebut memiliki makna bahwa pemerintah seakan tak acuh terhadap kondisi sastra di Indonesia saat ini yang menjadikan masyarakat semakin miris sebab sastra seolah-olah berguguran dengan sendirinya. Padahal Indonesia memiliki banyak rakyat yang mempunyai banyak bakat dan potensi besar, namun belum dikembangkan dan diberi perhatian. “Sastra sekarang kebanyakan malah yang tua-tua, anak mudanya malah seperti malu ketika bersastra,” tambahnya. (Flo/ Lpm Mata)
Read more ...

Buat Wisnu Fahmi Aldi

Buat Wisnu Fahmi Aldi
Oleh: Krisnaldo Triguswinri

Malam siluet jatuh dari matamu
Yang biru, angin kecil berbadan kecul
Toska abu abu,
Jatuh alis tipis malamu yang berkepala keras berbatu
berkelahi lembut dirinya sendiri dengan keras dirinya sendiri
Ia ubah gersang  dalam kulitnya jadi eros matahari
Dan sungai, ia gerhanakan buruk masa lalunya jadi eros sungai
Dan matahari.

Bisakah kau hidup
Tanpa asap
Tanpa menghisap?

Deathmetal, filsafat-teologism, kapitalism & fuck the teori,
Black tshirt, Black heart, black idealism, black spiritualist, lonely heart

You was falling for a girl!

Ia berlari diatas bulan biru
Dalam mata bulan biru
Perempuan-perempuan bergaun
Dari gurun, merah tersipu
Eros sungai dalam tubuhnya
Berbulan berbintang
Toska abu abu.

Maret. 2016
Read more ...

Surat dari Sekar

Surat dari Sekar
Oleh: Krisnaldo Triguswinri


Musik swan lake Tchaikovsky
Buat telinga dalam hati

Arthur eddington lahir 1882
Mati 1944 di Cambridge

Aku naik volks combi
berpakaian warna warni

Aku Belajar bahasa inggris
Amerika dan brithish

Di kampus aku berlatih saksofon
Dengan single-reed seperti clarinet

Aku jatuh cinta pada mahasiswa
Yang bawa Das kapital di tanganya

Kemaren, perpustakaan kamar kosku habis di bakar ekstrimis
Karna katanya aku penganut komunis

Angin sedang buruk di negriku
Fohn, daun daun anggrek berjatuhan


Read more ...

Rabu, 15 Juni 2016

Membaur dan Saling Kenal Lewat “Srawung Tidar” •LPM M@T@ bagi pengalaman dan pengetahuan tentang jurnalistik melalui “Jurnalistik Kampus

D
alam istilah Jawa, “Srawung” memiliki makna membaur. Agaknya pemaknaan tersebut yang menjadi tujuan dari Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) memunculkan inovasi baru dengan adakan “Srawung Tidar”, membaur untuk saling mengenal antar-UKM yang ada di Universitas Tidar (Untidar), Rabu (15/06).

PUTARKAN VIDEO: Antin Purwanti perlihatkan sejarah perkembangan pers 
                                 di Indonesia kepada segenap perwakilan yang hadir 
        pada “Srawung Tidar”. (Mata Foto)
Unit Kegiatan Mahasiswa atau yang akrab dikenal dengan sebutan UKM merupakan wadah bagi mahasiswa dalam menyalurkan minat dan bakat yang dimiliki. Di Universitas Tidar terdapat beberapa UKM yang menjadi naungan mahasiswa yang memiliki bermacam-macam minat dan bakat. UKM yang terdapat di Untidar diantaranya, UKM Penelitian (PHBD), Kreativitas Mahasiswa, Pers Mahasiswa (LPM M@T@), Bahasa Asing, Bengkel Seni dan Tari, Paduan Suara, Olahraga dan Beladiri, Mapala Sulfur, Agama Islam dan MTQ, Kristiani, Koperasi Mahasiswa, Mahasiswa Wirausaha, Resimen Mahasiswa, Pramuka, dan Korps PMI. Banyaknya UKM yang ada tentunya perlu untuk semua UKM saling mengenal dan mengakrabkan diri. Inilah yang menjadi cikal bakal adanya kegiatan yang bertajuk “Srawung Tidar”.
Jika pada Srawung Tidar bertajuk “Emansipasi Bengkel Seni” sebelumnya pemateri berasal dari UKM Bengkel Seni, kali ini LPM M@T@ lah yang mendapat giliran menjadi pemateri. Berlokasi di Ruang Pusat Bahasa Gedung Ekonomi Srawung Tidar, selama satu setengah jam perwakilan dari masing-masing UKM yang hadir disuguhkan mengenai “Jurnalistik Kampus”.
“Sebenarnya jurnalistik kampus harusnya seperti apa?” tanya salah satu perwakilan UKM Bengkel Seni, Kukuh, ketika acara Srawung Tidar berlangsung. Pemateri Maftukhin dan Antin Purwanti yang merupakan Pimpinan Umum dan Wakil Pimpinan Redaksi LPM M@T@ Untidar mencoba memaparkan bagaimana jurnalistik seharusnya dalam lingkup universitas. “Seperti fungsi pers pada umumnya bahwa selain memberi informasi, pers juga berfungsi sebagai kontrol sosial. Akan tetapi, meskipun pers menjadi kontrol sosial, pers sendiri harus berpegang teguh pada kode etik jurnalistik,” papar Maftukhin.
Kode etik dalam pers, diantaranya wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk; wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik; wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah; wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul; wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan; wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suapartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan; wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani; wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik; wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa; serta wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
Dalam acara yang dimoderatori oleh Fajrian Aprio P. tersebut juga menyuguhkan sejarah mengenai perkembangan pers di Indonesia. Sejarah tersebut terkait bagaimana perjuangan pers mencoba melepaskan diri dari kontrol pemerintah dan kembali menjadi kontrol sosial atau dalam arti lain mendapatkan kebebasannya setelah dikebiri oleh rezim Orde Baru masa lampau.
Selain membahas mengenai jurnalistik kampus dan sejarah perkembangan pers di Indonesia, LPM M@T@ juga mengajak mahasiwa perwakilan dari UKM yang telah hadir untuk menjajal kegiatan apa yang dilakukan seorang yang berkecimpung dalam pers. Mereka yang hadir dipersilakan untuk mencoba menulis sebuah opini terkait apapun yang berada di lingkup Untidar sebagai ajang latihan bagaimana menjadi seorang wartawan. (Nads/Flo)
Read more ...

Selasa, 14 Juni 2016

Lirik Momen Ramadhan, HMTS Dirikan “Kedai Civil”

Bulan Ramadhan dilirik Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) Universitas Tidar (Untidar) sebagai peluang buka usaha dan cari pengalaman dalam upaya menumbuhkan jiwa wirausaha dengan dirikan “Kedai Civil”, jualan takjil di Alun-Alun Kota Magelang, Selasa (14/06).
Kedai Civil: Mahasiswa yang tergabung dalam HMTS 
                           tengah siapkan dagangan sebelum ditawarkan 
              kepada masyarakat yang beraktivitas  
                         di Alun-alun Kota Magelang, Selasa (14/06).
Ramadhan merupakan bulan di mana seluruh kaum muslimin menjalankan Rukun Islam ke-4, yakni berpuasa selama satu bulan penuh. Di mana ada Ramadhan pasti di situ ada tradisi ngabuburit. Ngaburuit merupakan kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu menunggu buka puasa tiba dengan sekadar berjalan-jalan bersama keluarga dan teman, atau mencari menu buka puasa dan takjil. Puasa yang tak pernah luput dari tradisi ngabuburit tersebut menjadi waktu yang tepat dalam membuka peluang usaha, tentunya untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Peluang usaha ini dimanfaatkan oleh HMTS, khususnya Divisi Kewirausahaan (KWU), dalam usaha untuk menambah pundi-pundi penghasilan mereka. “Karena momennya tepat pas puasa, jadi buat takjil,” ujar Ikhtisani Saputri, Ketua Divisi KWU. 
Mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam HMTS mulai berjualan dari pukul 16.00 WIB sampai dengan menjelang buka puasa. Sebanyak delapan anggota, setiap harinya dikerahkan untuk menjajakan berbagai macam takjil yang dibandrol dengan harga 5 ribu per cupnya. Menu tersebut diantaranya, Bulldozer Sunrise Civil SodaOcean Crane Civil SodaSummer Excavator Civil SodaRoller Spring Soda, dan Winter Dumb Truck Civil Soda.  Delapan anggota tersebut masih dibagi kembali menjadi dua kelompok, kelompok pertama untuk menjaga stan dan yang kedua untuk terjun langsung mencari pelanggan. Kegiatan melatih berwirausaha dengan berberjualan ini berlangsung Alun-Alun Kota Magelang, tepatnya di depan Polres Magelang.
   Menu-menu yang tersaji di Kedai Civil berhasil menarik minat masyarakat sejak pertama kali terjun ke lapangan menjajakan takjil. Hari pertama puasa, sebanyak 22 cup terjual habis dalam waktu tidak lebih dari 30 menit. “Ngga ada setengah jam sudah habis,” terang Ikhtisani di sela-sela kegiatan berjualan di Alun-Alun Kota Magelang berlangsung.
   Kegiatan yang masuk ke dalam program kerja dari Divisi KWU ini, awalnya direncanakan berjalan selama satu minggu. Namun, melihat kembali bagaimana respon dari masyarakat, membuat Divisi KWU memutuskan untuk melanjutkan program ini sebagai kegiatan rutin selama bulan puasa.
Ide buka usaha ini bermula ketika Wakil Ketua HMTS, Yanna Mahardika, menyarankan HMTS untuk mengisi Ipteks Bagi Kewirausahaan (IBK) dengan berjualan takjil. IBK ini sendiri merupakan program semacam program kewirausahaan mahasiswa, akan tetapi dalam lingkup Untidar. “Dapat saran dari Wakahim buat ngisi takjil di IBK. Ngisi beberapa, nanti sisanya untuk kas HMTS,” jelas Ikhtisani.
Sebagai universitas yang memiliki visi dan misi sebagai universitas yang terdepan dalam berwirausaha, kegiatan seperti ini perlu dilakukan sebagai upaya dalam menumbuhkan jiwa wirausaha dalam diri masing-masing mahasiswa. Jika dalam perkuliahan mahasiswa mendapatkan teori tentang bagaimana berwirausaha, maka dengan kegiatan berjualan di tengah-tengah masyarakat dapat memberikan pengalaman secara langsung terkait dengan dunia wirausaha. “Sebenarnya kegiatan ini untuk melatih mahasiswa agar tidak malu dalam berwirausaha. Mahasiswa tidak hanya dituntut dalam teori, tapi praktik langsung di lapangan,” tutur Yanna. “Sesuai visi dan misi Untidar. Kegiatan ini sesuai dengan hal tersebut agar Untidar terdepan dalam berwirausaha,” tambahnya. (Flo)
Read more ...

Pembekalan FKIP, Bekali Mahasiswa Dengan Kewirausahaan

Sambutan : Dekan FKIP, Prof. Dr. H. Soekarno, M.Si., membuka kegiatan Pembekalan 2016                                                 dan langsung dilanjutkan dengan pemberian materi pertama yaitu kefakultasan.
UNTIDAR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengadakan kegiatan Pembekalan 2016 sebagai program kerja wajib bagi mahasiswa FKIP semester II. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat hingga Minggu (3-5/6), di Villa Taman Eden 2, Kaliurang, Yogyakarta. Sebanyak 225 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini merupakan proker wajib di FKIP. Setiap mahasiswa semester II wajib mengikuti kegiatan tersebut. Namun, apabila mahasiswa tidak dapat mengikuti pada tahun ini, maka wajib mengikuti kegiatan pembekalan tahun depan,” tutur ketua panitia, Rhoni Ardiyanto.
Acara yang mengusung tema “Mahasiswa Berjiwa Sosial, Pemimpin, dan Enterpreneurship dalam Pendidikan dan Kewirausahaan” ini, dibuka pada Jumat (3/6) pukul 16.30 WIB oleh Dekan FKIP, Prof. Dr. H. Soekarno, M.Si.
Presentasi : Salah satu kelompok proposal PHBD sedang 
                                  mempresentasikan hasil proposal yng telah disusunnya.
Selain sebagai proker wajib, kegiatan pembekalan tersebut juga bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan-pengetahuan mengenai ilmu kewirausahaan. Hal ini sesuai dengan Universitas Tidar, yaitu Kampus yang Berbasis Kewirausahaan.
Kegiatan selama tiga hari tersebut melibatkan dosen sebagai pemateri dari beberapa fakultas, seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, dan FKIP. Materi yang disampaikan berkisar tentang dunia kewirausahaan.
Adapun materi yang diberikan antara lain Kefakultasan, Kiat Sukses Kuliah di FKIP, Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), Kewirausahaan dalam Perspektif Pendidikan, Program Hibah Bina Desa (PHBD), dan Program Kewirausahaan Mahasiswa (PKM). Selain itu, untuk refreshing diadakan kegiatan outbond ringan di sekitan area Villa taman Eden II tersebut. Selama kegiatan, beberapa jajaran dosen struktural FKIP ikut mendampingi dan bermalam di tempat kegiatan untuk memantau.
Kegiatan diakhiri dengan presentasi proposal yang telah dibuat sebelumnya. Proposal tersebut dibagi menjadi 3 kategori, yaitu Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), Program Hibah Bina Desa (PHBD) dan Progam Kreatifitas Mahasiswa (PKM). Dari etiga kategori tersebut dibagi lagi menjadi 5 kelompok besar antara lain, kelompok proposal PHBD, dua kelompok proposal PKM, dan dua kelompok proposal PHBD. Masing- masing kelompok presentasi di bimbing oleh Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd., Xander Sallahudi, S.T., M.Eng., Malik Al Firdaus, M.Pd., Rini Estiowati, S.Pd., dan Lilia Indriani, S.Pd., M.Pd.
Sementara itu, kegiatan ditutup oleh Ketua Jurusan FKIP, Lilia Indriani, S.Pd., M.Pd., pada Minggu (5/6) pukul 13.00 WIB.

(IHK)

Read more ...

Lirik Momen Ramadhan, HMTS Dirikan “Kedai Civil”

Bulan Ramadhan dilirik Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil (HMTS) Universitas Tidar (Untidar) sebagai peluang buka usaha dan cari pengalaman dalam upaya menumbuhkan jiwa wirausaha dengan dirikan “Kedai Civil”, jualan takjil di Alun-Alun Kota Magelang, Selasa (14/06).
Ramadhan merupakan bulan di mana seluruh kaum muslimin menjalankan Rukun Islam ke-4, yakni berpuasa selama satu bulan penuh. Di mana ada Ramadhan pasti di situ ada tradisi ngabuburit. Ngaburuit merupakan kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu menunggu buka puasa tiba dengan sekadar berjalan-jalan bersama keluarga dan teman, atau mencari menu buka puasa dan takjil. Puasa yang tak pernah luput dari tradisi ngabuburit tersebut menjadi waktu yang tepat dalam membuka peluang usaha, tentunya untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Peluang usaha ini dimanfaatkan oleh HMTS, khususnya Divisi Kewirausahaan (KWU), dalam usaha untuk menambah pundi-pundi penghasilan mereka. “Karena momennya tepat pas puasa, jadi buat takjil,” ujar Ikhtisani Saputri, Ketua Divisi KWU.
Mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam HMTS mulai berjualan dari pukul 16.00 WIB sampai dengan menjelang buka puasa. Sebanyak delapan anggota, setiap harinya dikerahkan untuk menjajakan berbagai macam takjil yang dibandrol dengan harga 5 ribu per cupnya. Menu tersebut diantaranya, Bulldozer Sunrise Civil Soda, Ocean Crane Civil Soda, Summer Excavator Civil Soda, Roller Spring Soda, dan Winter Dumb Truck Civil Soda.  Delapan anggota tersebut masih dibagi kembali menjadi dua kelompok, kelompok pertama untuk menjaga stan dan yang kedua untuk terjun langsung mencari pelanggan. Kegiatan melatih berwirausaha dengan berberjualan ini berlangsung Alun-Alun Kota Magelang, tepatnya di depan Polres Magelang.
   Menu-menu yang tersaji di Kedai Civil berhasil menarik minat masyarakat sejak pertama kali terjun ke lapangan menjajakan takjil. Hari pertama puasa, sebanyak 22 cup terjual habis dalam waktu tidak lebih dari 30 menit. “Ngga ada setengah jam sudah habis,” terang Ikhtisani di sela-sela kegiatan berjualan di Alun-Alun Kota Magelang berlangsung.
   Kegiatan yang masuk ke dalam program kerja dari Divisi KWU ini, awalnya direncanakan berjalan selama satu minggu. Namun, melihat kembali bagaimana respon dari masyarakat, membuat Divisi KWU memutuskan untuk melanjutkan program ini sebagai kegiatan rutin selama bulan puasa.
Ide buka usaha ini bermula ketika Wakil Ketua HMTS, Yanna Mahardika, menyarankan HMTS untuk mengisi Ipteks Bagi Kewirausahaan (IBK) dengan berjualan takjil. IBK ini sendiri merupakan program semacam program kewirausahaan mahasiswa, akan tetapi dalam lingkup Untidar. “Dapat saran dari Wakahim buat ngisi takjil di IBK. Ngisi beberapa, nanti sisanya untuk kas HMTS,” jelas Ikhtisani.
Sebagai universitas yang memiliki visi dan misi sebagai universitas yang terdepan dalam berwirausaha, kegiatan seperti ini perlu dilakukan sebagai upaya dalam menumbuhkan jiwa wirausaha dalam diri masing-masing mahasiswa. Jika dalam perkuliahan mahasiswa mendapatkan teori tentang bagaimana berwirausaha, maka dengan kegiatan berjualan di tengah-tengah masyarakat dapat memberikan pengalaman secara langsung terkait dengan dunia wirausaha. “Sebenarnya kegiatan ini untuk melatih mahasiswa agar tidak malu dalam berwirausaha. Mahasiswa tidak hanya dituntut dalam teori, tapi praktik langsung di lapangan,” tutur Yanna. “Sesuai visi dan misi Untidar. Kegiatan ini sesuai dengan hal tersebut agar Untidar terdepan dalam berwirausaha,” tambahnya. (Flo)
Read more ...

PHBD Bank Limbah, Satu-Satunya Peroleh Dana Dikti


H
Foto bersama : Foto bersama antara tim PHBD Hasan Syukron 
                          dengan pembimbing PHBD, Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd.,
                            pasca pengumuman lolos PHBD Kemenristek Dikti 2016. 
asan Syukron, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Tidar (Untidar),  berhasil lolos Program Hibah Bina Desa (PHBD) yang di selenggarakan Kemenristek Dikti. Hasil kerja keras Syukron dan teamnya berminggu-minggu mulai dari membuat praproposal hingga proposal yang telah di-upload kini terbayarkan. Melalui proposalnya yang berjudul Pemberdayaan Kaum Marjinal dengan Sistem Bank Limbah Kaleng di KecamatanRejowinangun Kota Magelang yang mengangkat subbidang ekonomi kreatif Indonesia. Syukron dan teamnya berhasil lolos PHBD Dikti dan didanai sebesar Rp 40 juta, melalui dana tersebut Syukron dan teamnya akan segera melakukan program kerjanya. “Tujuan penulisan PHBD ini untuk  mengentaskan kemiskinan dan pemanfaatan komoditi lokal yang dianggap limbah” ungkap syukron sebagai Ketua team. Rangga Asmara, S.Pd. M.Pd., sebagai pembimbing mengatakan, “Menurut saya topik PHBD Syukron ini cukup strategis karena bersesuaian dengan rencana presiden Jokowi yang ingin memajukan ekonomi kreatif Indonesia”.
 Sebelumnya Syukron juga sudah pernah mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Kemenristek Dikti dengan mengajukan proposal yang serupa yaitu pemanfaatan limbah kaleng tetapi belum berhasil lolos dan kali ini melalui proposal PHBD-nya Syukron beserta teamnya berhasil lolos. Awalnya Syukron beserta tim merasa sayang ketika melihat kaleng-kaleng bekas hanya tertumpuk menjadi sampah saja, lalu dia terinspirasi dari seorang pengrajin souvenir kaleng bekas di Salaman, Magelang dan tercetuslah ide pemanfaatan kaleng bekas tersebut.
Melalui program proposalnya Syukron dan teamnya berharap, “semoga dengan program ini bisa lebih memanfaatkan limbah kaleng tersebut menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. selain itu, industri kreatif tersebut juga dapat memberdayakan masyarakat dan menjadikan masyarakat lebih mandiri, khususnya di Kecamatan Rejowinangun Kota Magelang,” ujar Syukron yang ternyata berbakat juga dalam bidang sastra. “Kemudian yang tidak kalah penting, untuk semua teman-teman mahasiswa agar termotivasi dan mau mengikuti program-program Dikti maupun pemerintah demi mengharumkan nama universitas di kancah nasioal,” tambahnya.
Rangga Asmara, S.Pd., M.Pd., sebagai pembimbing serta Kaprodi PBSI berpendapat bahwa kedepanya fakultas akan mewajibkan mhasiswa yang menerima beasiswa untuk mengajukan proposal. “Kedepanya fakultas akan memberlakukan kebijakan mengenai kewajiban mahasiswa penerima beasiswa untuk menuliskan proposal baik PKM atau PHBD, dan wajib menjadi ketua. Jangan takut tidak lolos, karena kuncinya selain topik yang diangkat kreatif dan strategis, mahasiswa juga harus mampu menuliskan permasalahan secara gamblang dan sesuai pada pedoman penulisan ”tandasnya. (Yas)
Read more ...

Melancholia

 Melancholia
Karya: Krisnaldo Triguswinri


A
ldo berencana mendaki Gunung Merbabu sore temaram ini. Dia menyiapkan segala peralatan dan logistik untuk kebutuhan di puncak. Aldo suka gunung. Gunung menjadi tempat pelarian paling baik untuk atasi pesakitan yang selalu ia gundahkan di darat. Sebab daratan adalah luka, maka ia naik gunung. hati sehat aldo sedang luka. Dia pikir dia cuma bisa mengobati hati yang luka atau melukai hati yang sehat. Tapi ternyata dia gagal. Dia tetap seorang manusia. Punya hati dan bisa luka. Bukan Tuhan.
            Semua sudah dalam ransel. Gunung pun telah menunggu untuk dijamah. Cuaca mendukung karena begitu cerah, mungkin di langit semua tahu bagaimana kesedihan. Aldo memandang sudut-sudut kamar yang penuh sarang laba-laba sebelum beranjak pergi keluar kamar. Di dinding-dinding kamar terdapat vandal-vandal balada, poster poster musisi idamannya yang selalu ia dengar musiknya setiap saat. Sekadar untuk menghilangkan kepenatan dalam kepala. Lalu Aldo menatap buku-bukunya yang berjejer jejer pada rak buku hitam pekat seperti aspal.
    ‘’Aku ingin hidup di gunung, mungkin itu akan membuatku lebih tenang,’’ tutur Aldo sambil melihat gambar sekar yang pudar lalu meninggalkan kamar.
            Sekar adalah kekasih Aldo, kekasih yang sangat Aldo cintai, seorang wanita favorit di perguruan tinggi yang menjadi tempat pertapaan Aldo dalam mengeruk ilmu pengetahuan. Aldo adalah seorang mahasiswa yang latar belakang keilmuannya adalah Administrasi Negara, sedangkan Sekar Sastra Inggris. Sekar wanita pintar, baik dan cantik. Aldo selalu menganalogikan Sekar seperti ratu-ratu Inggris atau seperti bunga dalam  puisi –puisi Pablo Neruda yang terkenal. Sekar sepertinya sangat sempurna di mata Aldo dan Aldo mencintai sekar lebih. Sekar itu wanita manis yang terkadang sangat keras kepala, namun cantik dan pintar.
Perjuangan Aldo mendapatkan hati Sekar tidak mudah. Banyak lika-liku dalam proses perjalanan  hingga ahirnya benar-benar mendapatkan hati sekar sepenuhnya. Dimana Sekar pada saat itu telah memilki seorang kekasih, laki-laki bernama Andra yang sedang menempuh Pendidikan Militer di Magelang. Aldo sempat putus asa karena dia hanya seorang mahasiswa pemalas yang urakan. Mungkin dia sedang berada dalam situasi yang sulit, dimana sangat kecil sekali peluang Aldo untuk menjadi kekasih Sekar. Sementara Andra terjamin harkat martabat hidupnya, dan Andra lebih sesuai dengan latar belakang keluarga Sekar yang militer, ayah dan kakak-kakak Sekar adalah apara. Sekar harusnya menjadi polwan, tapi dia gagal. Yaa.. Keluarga Sekar terhormat karena status sosial.
Tidak heran ketika ayah Sekar mendukung sangat keras hubungan Sekar dan Andra. Kebanyakan orang tua matrealistis demi kebahagian anaknya. Tapi di sisi lain, Sekar tidak mencintai Andra sedikit pun. Sekar tidak bahagia bersama Andra, Sekar hanya mencoba menjadi anak yang tidak durhaka, walaupun kehendak ayahnya itu menyakitkan dan menyedihkan untuk Sekar. Keluarga Sekar tidak demokratis, ayahnya sangat otoriter karena terlalu memaksakan kehendak tanpa mengerti apa yang sebenarnya Sekar inginkan. Sekar benci pada kenyataan hidup yang  buruk. Dia hanya sabar dan menerima. Tanpa suara dan selalu ditenggelamkan oleh keputusan-keputusan.
Aldo benci dengan ini, karena Aldo tidak main-main dan sangat mencintai Sekar. Oleh karena itu, Aldo dilema dalam hubungan percintaan ini. Walaupun Sekar telah mengakhiri hubunganya dengan Andra. Hal itu justru menjadi beban berat bagi Aldo, karena ketika aldo benar-benar jatuh dalam euforia cinta dan memberikan sepenuh hatinya pada Sekar, akan ada orang yang mengakhiri hubungan mesra ini. Karena Sekar telah mengakhiri hubunganya dengan Andra tanpa sepengetahuan keluarganya, ayahnya pasti akan murka kehilangan kehormatan, dan tidak akan merestui Aldo sebagai kekasih Sekar. Ayahnya akan mengakhiri hubungan manis Aldo dan Sekar, Sekar pasti akan dilarang berhubungan dengan Aldo, atau mungkin akan jauh lebih buruk.
Dari awal Aldo dan Sekar merajut kasih seperti tikus got (bawah tanah). Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Aldo dan Sekar tidak bahagia. Sekar sangat bahagia bersama Aldo yang romantis. Aldo berupaya menjadi apapun demi kesenangan Sekar, melakukan segalanya yang dia bisa. Bahkan Aldo rela kepentingan-kepentinganya terpenjara demi kebahagian Sekar, dimana insomnia menghampiri setiap malam Aldo yang dingin, menemani Aldo dalam menulis cerpen, sajak, dan lagu. Aldo sangat lelah ketika pagi datang, dan matahari menidurkanya, semua dia lakukan demi Sekar.
Entah dapat energi dan ide dari mana Aldo dalam berkarya, yang pasti dia sangat produktif semenjak berpacaran dengan Sekar. Seolah-olah Sekar menjadi mesin penggerak karena behasil membuat Aldo terus berkerja.  Saking semangatnya Aldo karena Sekar , dia makin progresif menjadi aktivis mahasiswa dan penyair. Banyak program-program kerjanya yang menjadi konsep kegiatan BEM Fakultasnya, lebih giat menghadiri acara-acara sastra,  dan mendeklamasikan puisi-puisi revolusionernya. Aldo seperti purusahaan mutlinasional yang memproduksi banyak barang. Tapi tetap saja dia seperti bunga yang tidak akan dikehendaki hidup.
Kembali pada malam dimana hati dan rasa membatu. Rasanya ingatan itu membunuh Aldo secara perlahan, angin-angin dengan lembutnya menerbangakan dua pasang burung di ranting. Mimpi buruk itu menjadi nyata. Sekar pergi meninggalkan Aldo. Ia tidak pernah bisa diprediksi Aldo. Tiba-tiba saja Sekar mengakhiri hubungan percintaan ini. Aldo tidak pernah percaya apa yang Sekar katakan. Sangat singkat, tapi meruntuhkan hati dan jiwa. Aldo benar-benar merasa buruk dan kacau. Dia kehilangan hatinya yang patah. Malam itu menjadi sejarah terburuk dalam cerita hidup Aldo. Hingga ahirnya mengantar Aldo pada suatu perjalanan menuju gunung yang dingin dan sepi.
Aldo berjalan keluar menutup beberapa pintu rumahnya. Ingatan akan Sekar terus melekat pekat pada ingatanya. Propaganda patah hati yang Aldo rencanakan juga gagal. Dia tidak bisa menipu dirinya sendiri, dia tidak bisa lupa apapun tentang Sekar.

   ‘’Aku akan berteriak sekeras mungkin di gunung nanti, dan meninggalkan beberapa kenangan buruk  disana,’’ tulis Aldo dalam buku jurnal miliknya.
Read more ...
Copyright© 2016 Designed By Fery Firmanda.. FeryZone dot Com